JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 akan lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal IV 2025 yang tercatat sebesar 5,39% year on year (yoy). Hal ini disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi diperkirakan akan berlanjut pada kuartal I 2026. Beberapa faktor yang dianggap menjadi pendorong utama antara lain:
- Konsumsi rumah tangga meningkat karena didukung oleh berbagai program stimulus pemerintah dan pelonggaran kebijakan moneter. Selain itu, ekspektasi konsumen yang semakin membaik juga turut berkontribusi.
- Peningkatan aktivitas ekonomi selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di kuartal I 2026 seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idulfitri 1447 H.
Selain konsumsi, investasi juga diproyeksikan tumbuh lebih tinggi. Faktor-faktor yang mendukung antara lain:
- Investasi pemerintah yang terus berlangsung, termasuk dalam rangka hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA).
- Perbaikan keyakinan pelaku usaha yang masih berlanjut, meskipun secara umum kondisi pasar masih menghadapi tantangan.
Dalam proyeksi tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 akan berada dalam kisaran 4,9% hingga 5,7% yoy. Proyeksi ini didasarkan pada berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan BI sendiri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang saling bersinergi dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil pemerintah,” ujar Perry Warjiyo.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, BI berharap dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tinggi, tetapi juga memiliki daya tahan yang kuat terhadap risiko eksternal maupun internal. Kebijakan yang diambil diharapkan bisa membantu menjaga stabilitas ekonomi serta memacu pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kebijakan yang diterapkan oleh BI tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga pada pemulihan struktural. Dalam hal ini, BI bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan bahwa semua kebijakan yang dikeluarkan saling mendukung dan tidak saling bertentangan.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
- Pengendalian inflasi melalui kebijakan moneter yang tetap ketat namun fleksibel.
- Penguatan sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial yang memastikan stabilitas sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
- Peningkatan efisiensi sistem pembayaran untuk mendukung transaksi ekonomi yang lebih cepat dan aman.
Selain itu, BI juga terus memantau perkembangan ekonomi global yang bisa memengaruhi perekonomian Indonesia. Dengan adanya fluktuasi harga komoditas, ketidakstabilan politik, atau krisis ekonomi di negara-negara tetangga, BI harus tetap waspada dan siap merespons apabila terjadi perubahan signifikan.
Dalam konteks ini, BI menilai bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 sangat realistis dan didasarkan pada analisis yang matang. Namun, kondisi ekonomi tetap rentan terhadap berbagai risiko, sehingga diperlukan kehati-hatian dan adaptasi yang cepat dari semua pemangku kepentingan.





