Kehilangan yang Mendalam bagi Tokoh Nasional
Kepergian Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggalkan duka mendalam bagi berbagai tokoh nasional, termasuk Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Sosok yang lahir di Surabaya pada 15 November 1935 ini mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin pagi (2/3) sekitar pukul 07.00 WIB.
Pramono Anung langsung datang ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Ia menilai bahwa Try Sutrisno bukan hanya seorang pejabat negara, tetapi juga sosok ayah yang sangat merangkul dan memperhatikan semua orang.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya sebagai pribadi yang mengenal dekat lama dengan Pak Try Sutrisno, tentunya merasa kehilangan. Karena beliau ini adalah sosok bapak bangsa yang merangkul semua orang,” ujar Pramono di rumah duka, Senin (2/3).
Pramono mengaku telah menjalin hubungan baik dengan almarhum selama puluhan tahun. “Saya mengenal beliau dari tahun sekitar 95, jadi mengenalnya cukup lama sekali,” tambahnya.
Penjaga Teguh Konstitusi dan Pancasila
Dalam ingatan Pramono, Try Sutrisno adalah figur yang tidak pernah berkompromi jika menyangkut dasar negara. Meski di usia senja, dedikasinya terhadap ideologi bangsa tetap membara.
Pramono mengenang pertemuan terakhirnya dengan sang mantan Panglima ABRI tersebut sekitar lima hingga enam bulan yang lalu. Saat itu, almarhum masih aktif berkontribusi di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
“Beliau kalau urusan Pancasila kemudian apa, konstitusi kita, itu selalu dipegang teguh. Jadi itulah yang membedakan Pak Try Sutrisno dengan tokoh-tokoh yang lain, memang beliau urusan konstitusi itu sesuatu yang apa dalam, inheren dalam hidupnya,” kenang Pramono.
Meskipun kondisi fisiknya mulai menurun seiring usia yang hampir menginjak 90 tahun, Pramono bersaksi bahwa semangat juang Try Sutrisno tidak pernah luntur.
“Kondisinya memang terakhir-terakhir ini kan beliau mengalami penurunan, tetapi semangatnya nggak pernah turun. Dalam usia beliau pada waktu hampir 90 tahun, semangatnya nggak pernah turun,” ungkapnya.
Pramono juga membeberkan bahwa almarhum memiliki kedekatan khusus dengan Megawati Soekarnoputri, di mana keduanya sering terlibat dalam diskusi mendalam mengenai persoalan bangsa.
Jejak Karier Sang Prajurit Sejati
Try Sutrisno memulai perjalanannya dari Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Karir militernya begitu cemerlang, mulai dari Pangdam IV/Diponegoro, Pangdam Jaya, hingga menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 1988–1993.
Puncak karirnya adalah saat menjabat sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Presiden Soeharto pada tahun 1993–1998.
Hingga akhir hayatnya, ia terus mendedikasikan hidupnya untuk pembinaan nilai-nilai kebangsaan.





