Visi dan Strategi Pembangunan NTT dalam Empat Tahun ke Depan
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menyampaikan arah kebijakan pemerintahan selama empat tahun ke depan. Pemaparan ini tidak hanya mencakup capaian satu tahun pemerintahan, tetapi juga menegaskan fokus pada tiga pilar utama, yaitu hilirisasi, ekonomi biru, serta penguatan ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Menurutnya, NTT tidak boleh lagi menjadi daerah yang hanya menyediakan bahan mentah. Nilai tambah dari produk unggulan harus tetap berada di daerah dan memberikan peluang kerja bagi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan. Hal ini menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan daerah.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah program One Village One Product (OVOP), yang telah membina puluhan produk unggulan serta ribuan pelaku UMKM. Program ini diperkuat dengan pembentukan NTT Mart di 22 kabupaten/kota sebagai pusat distribusi dan pemasaran produk lokal. Melalui gerakan “Beli NTT”, pemerintah mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat untuk lebih memprioritaskan produk daerah, sehingga memperkuat sirkulasi ekonomi lokal.
Di sektor kelautan dan perikanan, pemerintah mengusung prinsip ekonomi biru, yaitu meningkatkan produksi tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya. Komoditas seperti tuna, cakalang, dan tongkol menjadi kontributor utama produksi perikanan daerah. Agenda hilirisasi sektor kelautan difokuskan pada pembangunan industri pengolahan di dalam daerah, yang bertujuan untuk membuka lapangan kerja di wilayah pesisir serta meningkatkan nilai tambah ekonomi.
Selain itu, sektor budidaya juga dikembangkan melalui komoditas nila, bandeng, dan lele. Sementara itu, sektor garam rakyat diperkuat dengan modernisasi teknologi produksi. Penetapan Rote sebagai pusat industri garam nasional dinilai menjadi peluang besar bagi NTT.
Kekuatan Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan
Di sektor pertanian, pemerintah memperkuat rantai pasok pangan dari hulu hingga hilir. Produktivitas padi dan jagung mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Produksi padi pada tahun 2025 mendekati satu juta ton gabah kering giling. NTT bahkan meraih penghargaan swasembada pangan dari Kementerian Pertanian dan masuk lima besar nasional.
Pemerintah juga mendorong program Pekarangan Pangan Lestari untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga. Selain itu, akses pasar langsung bagi petani ditingkatkan melalui pasar tani dan pameran pangan lokal, guna memotong rantai distribusi yang panjang.
Tujuh Pilar Strategis Pembangunan
Gubernur menegaskan bahwa tujuh pilar strategis pembangunan menjadi kerangka kebijakan agar pembangunan berjalan terintegrasi dan berkelanjutan. Tujuh pilar tersebut mencakup ekonomi berkelanjutan, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan komunitas, pemerataan infrastruktur, reformasi birokrasi serta kolaborasi lintas sektor.
“Ekonomi berkelanjutan bukan soal angka semata, tetapi soal keberanian keluar dari pola lama dan keberpihakan nyata kepada petani, nelayan, UMKM, generasi muda dan perempuan,” tegasnya.
Ia menutup pidato dengan ajakan memperkuat kolaborasi lintas sektor agar visi NTT maju, sehat, cerdas dan berkelanjutan dapat terwujud dalam empat tahun mendatang.





