Gunung Semeru Meletus 46 Kali, Guguran Awan Panas Terjadi

Gunung Semeru Erupsi 8 169
Gunung Semeru Erupsi 8 169

Aktivitas Gunung Semeru Terus Berlangsung Hingga Siang Hari

Aktivitas Gunung Semeru masih berlangsung hingga Selasa, 24 Februari 2026, pada siang hari. Sepanjang hari Selasa, mulai dari dini hari hingga siang, Gunung Semeru mengalami 46 kali erupsi atau letusan dengan disertai guguran awan panas.

Petugas pengawas Gunung Semeru, Mukdas Sofian, AMd melaporkan bahwa gunung yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang Jawa Timur selama periode pukul 00.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB mengalami 24 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 11 hingga 23 milimeter dengan lama gempa 74 hingga 133 detik. Letusan atau erupsi juga dibarengi dengan sekali gempa awan panas guguran dengan lama gempa 192 detik.

Letusan atau erupsi juga disertai 7 kali gempa guguran dengan lama gempa 37 hingga 86 detik. Juga 4 kali gempa hembusan dengan lama gempa 41 hingga 60 detik dan sekali gempa tektonik jauh dengan lama gempa 35 detik.

Sementara antara pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB, gunung berapi dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut yang juga dikenal dengan sebutan Maha Meru mengalami 22 kali gempa letusan atau erupsi dengan lama gempa 60 hingga 131 detik dan 3 kali gempa guguran dengan lama gempa 25 hingga 63 detik. Letusan juga disertai gempa hembusan dan harmonic masing-masing sekali dengan lama gempa mencapai 132 detik.

Sementara petugas pengawas Gunung Semeru Liswanto AP melaporkan bahwa pada pukul 12.28 WIB, kemudian 13.06 WIB dan 13.30 WIB Gunung Semeru kembali terpantau mengalami letusan atau erupsi. “Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung,” ujar Liswanto AP sebagaimana dikutip dari situs resmi MAGMAIndonesia.

Peringatan untuk Masyarakat dan Wisatawan

Terkait dengan aktivitas Gunung Semeru yang masih berlangsung, masyarakat maupun pengunjung atau wisatawan diingatkan untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan atau sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi).

“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai. Di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak,” kata Liswanto.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu atau pijar. Juga mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

Jenis Gempa yang Terjadi

Beberapa jenis gempa yang tercatat selama aktivitas Gunung Semeru adalah:

  • Gempa Letusan: Terjadi sebanyak 24 kali pada periode pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB dengan lama gempa 74 hingga 133 detik.
  • Gempa Awan Panas Guguran: Terjadi sekali dengan lama gempa 192 detik.
  • Gempa Guguran: Terjadi sebanyak 7 kali dengan lama gempa 37 hingga 86 detik.
  • Gempa Hembusan: Terjadi sebanyak 4 kali dengan lama gempa 41 hingga 60 detik.
  • Gempa Tektonik Jauh: Terjadi sekali dengan lama gempa 35 detik.

Pada periode pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB, tercatat:

  • Gempa Letusan: Terjadi sebanyak 22 kali dengan lama gempa 60 hingga 131 detik.
  • Gempa Guguran: Terjadi sebanyak 3 kali dengan lama gempa 25 hingga 63 detik.
  • Gempa Hembusan: Terjadi sekali dengan lama gempa 132 detik.
  • Gempa Harmonic: Terjadi sekali dengan lama gempa 132 detik.

Pemantauan dan Peringatan Lanjutan

Selain itu, beberapa waktu setelah pukul 12.00 WIB, Gunung Semeru kembali mengalami tiga kali letusan pada pukul 12.28 WIB, 13.06 WIB, dan 13.30 WIB. Petugas pengawas menyampaikan bahwa saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung.

Dengan adanya aktivitas Gunung Semeru yang terus berlangsung, masyarakat dan pengunjung diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi anjuran dari pihak berwenang. Wilayah-wilayah yang berisiko tinggi seperti sektor tenggara dan sepanjang aliran sungai harus dihindari. Dengan demikian, keselamatan masyarakat dapat terjaga secara maksimal.

Pos terkait