Harga emas diprediksi melonjak di bursa komoditas hari ini

Aa1vm2sx
Aa1vm2sx

Pergerakan Harga Emas di Pasar Asia

Harga emas diperkirakan akan mengalami lonjakan tajam saat pasar Asia dibuka pada pekan perdagangan baru. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya risiko geopolitik sepanjang akhir pekan yang mendorong investor untuk memperkuat posisi defensif mereka.

Beberapa analis menyampaikan bahwa reaksi awal pasar kemungkinan akan berupa lonjakan harga, yang dikenal sebagai gap up. Namun, keberlanjutan kenaikan tersebut akan bergantung pada apakah investor tetap memperlakukan emas sebagai lindung nilai utama atau justru aksi beli mereda setelah penyesuaian posisi awal selesai dilakukan.

Mohanad Yakout, analis pasar senior Scope Markets, menjelaskan bahwa sentimen pembukaan pasar kemungkinan kuat. Ia menyoroti satu level harga krusial yang akan menjadi penentu arah selanjutnya.

“Emas sangat mungkin dibuka dengan lonjakan kenaikan yang signifikan ketika pasar Asia mulai diperdagangkan, mengingat intensitas eskalasi geopolitik. Level kunci yang perlu diperhatikan adalah 5.600 dolar AS, yang merupakan rekor tertinggi sebelumnya sekaligus menjadi batas psikologis penting,” ujar Yakout.

Menurut dia, pergerakan harga di sekitar level tersebut lebih penting dibandingkan besaran kenaikan awalnya.

“Jika emas hanya sempat menembus level itu lalu kembali turun, maka itu menunjukkan aktivitas lindung nilai jangka pendek. Namun, jika harga menembus 5.600 dolar AS dan bertahan di atasnya dengan minat beli yang berkelanjutan, maka itu mengindikasikan pergeseran yang lebih struktural menuju strategi ‘haven-first’,” katanya.



Pedagang mengambil logam mulia yang dipilih pembeli di salah satu toko perhiasan emas di Cikini, Jakarta, Jumat (12/9/2025). – (/Prayogi)

Level yang Dicermati Pelaku Pasar

Analis lain memandang pergerakan awal emas dari sisi zona resistensi yang berpotensi menentukan arah sesi perdagangan.

Michael Brown, analis riset senior Pepperstone, mengatakan pasar cenderung mengambil posisi defensif saat pembukaan, dengan dua level yang kemungkinan besar menjadi perhatian.

“Sangat jelas emas akan dibuka lebih tinggi karena pelaku pasar mengurangi risiko dan mencari aset aman sebagai respons atas peristiwa geopolitik akhir pekan ini,” ujar Brown.

Ia menambahkan, “Level 5.400 dolar AS per ons, diikuti rekor tertinggi akhir Januari di 5.595 dolar AS per ons, menjadi level penting yang perlu diperhatikan di sisi kenaikan.”

Sementara itu, Vijay Valecha, kepala investasi Century Financial, menilai konfirmasi pergeseran strategi jangka panjang berada di rentang harga yang sedikit lebih rendah.

“Emas kemungkinan memulai perdagangan Asia dengan lonjakan kuat, mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik dan peralihan ke aset yang lebih aman. Harga akhir pekan sekitar 5.430 dolar AS, naik sekitar 136 dolar AS, menunjukkan pasar memasuki pekan ini dengan lebih berhati-hati,” ujarnya.

Menurut dia, jika emas mampu bertahan di atas 5.450 hingga 5.500 dolar AS, maka hal itu menandakan pergeseran dari lindung nilai jangka pendek menuju strategi aset aman jangka panjang.

Peran Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi

Dalam perdagangan awal, harga emas biasanya dipengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, para analis memperkirakan fase awal kali ini lebih banyak dipicu oleh penyesuaian posisi dan selera risiko dibandingkan korelasi makroekonomi tradisional.

Yakout mengatakan emas tetap dapat menguat meski dolar AS solid pada saat terjadi guncangan besar, dengan imbal hasil riil yang lebih menentukan.

“Pada jam-jam awal perdagangan, arah emas kemungkinan lebih didorong oleh permintaan aset aman dibandingkan korelasi tradisional,” ujarnya.

Ia menambahkan faktor makro yang lebih penting adalah imbal hasil riil obligasi pemerintah AS.

“Jika investor berbondong-bondong masuk ke obligasi dan imbal hasil riil turun, maka biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih rendah, sehingga membuat emas lebih menarik,” katanya.

Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi Saxo Bank, sependapat dan menolak anggapan bahwa pasar harus memilih antara dolar AS atau emas.

“Permintaan aset aman bisa mengangkat dolar AS sekaligus emas. Bukan salah satu,” ujarnya.

Valecha juga menilai keberlanjutan kenaikan emas akan sangat bergantung pada pergerakan imbal hasil riil ketika pasar mulai memperhitungkan dampak inflasi dari kenaikan harga energi.

“Emas mungkin melonjak terlebih dahulu karena kekhawatiran geopolitik, tetapi kenaikan yang bertahan lama bergantung pada apakah imbal hasil riil turun,” ujarnya.

“Jika imbal hasil obligasi pemerintah turun sementara ekspektasi inflasi tetap tinggi akibat kenaikan harga energi, maka imbal hasil riil akan semakin melemah, yang biasanya mendukung harga emas,” tambahnya.

Bank Sentral Borong Emas

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut penguatan harga patokan ekspor (HPE) emas pada periode pertama Maret 2026 telah didorong pembelian oleh sejumlah bank sentral global di tengah dinamika ekonomi.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan, HPE emas meningkat dari 159.475,43 dolar AS per kilogram menjadi 161.568,53 dolar AS per kilogram. Harga referensi (HR) emas juga naik dari 4.960,24 dolar AS per troy ounce (t oz) menjadi 5.025,35 dolar AS per troy ounce.

“Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya permintaan safe-haven serta pembelian oleh sejumlah bank sentral global di tengah meningkatnya tantangan ekonomi dunia,” ujar Tommy dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).

Sementara itu, HPE konsentrat tembaga (Cu ≥ 15 persen) untuk periode pertama Maret 2026 sebesar 6.684,18 dolar AS per Wet Metric Ton (WMT). Nilai tersebut turun 0,12 persen dibandingkan periode kedua Februari 2026 yang tercatat sebesar 6.692,35 dolar AS per WMT.

Tommy menyampaikan, penurunan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh aksi ambil untung dan penguatan dolar AS di tengah fase konsolidasi harga tembaga global.

Selama periode pengumpulan data, harga tembaga London Metal Exchange (LME) sempat menembus 13.000 dolar AS per ton dan mencapai sekitar 13.300 dolar AS per ton pada 11 Februari, sebelum terkoreksi ke kisaran 12.500-12.700 dolar AS per ton dan kembali bergerak mendekati 13.200 dolar AS per ton pada akhir Februari 2026.

“Dalam rentang penghitungan tersebut, harga tembaga (Cu) turun 1,44 persen dan perak turun 15,09 persen, sementara emas (Au) naik 1,31 persen,” kata Tommy.

Ketentuan tersebut ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 375 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar tertanggal 27 Februari 2026, yang berlaku untuk periode 1-14 Maret 2026.

Penetapan HPE dan HR didasarkan pada masukan teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengacu pada harga pasar internasional. Harga tembaga merujuk pada LME, sedangkan emas dan perak mengacu pada London Bullion Market Association (LBMA).

Proses penetapan turut melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian.

Pos terkait