Harga emas global pada perdagangan Sabtu, 21 Februari 2026, ditutup di level US$ 5.103 per troy ounce. Akibatnya, harga logam mulia di Indonesia mengalami kenaikan menjadi Rp 3.012.000 per gram pada waktu yang sama.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa harga logam mulia bisa mencapai Rp 3.052.000 per gram jika harga emas dunia meningkat ke level US$ 5.178 per troy ounce pada resistance pertama perdagangan pekan depan. “Kemungkinan besar hal ini akan terjadi pada hari Senin,” ujar Ibrahim melalui pesan suara, Ahad, 22 Februari 2026.
Namun, jika terjadi koreksi, ia memperkirakan harga logam mulia akan berada di level Rp 2.950.000 per gram jika harga emas dunia melemah ke level US$ 5.045 per troy ounce pada rentang support pertama perdagangan Senin, 23 Februari 2026.
Menurut Ibrahim, ada tiga faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga emas dunia pada pekan depan:
Faktor Pertama: Kondisi Geopolitik
Potensi konflik Timur Tengah setelah Israel menunda rapat kabinet memicu kekhawatiran investor. Perdana Menteri Israel menunda rapat kabinet dan berkomunikasi intens dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kemungkinan besar dalam beberapa hari ke depan, Amerika dan Israel akan melakukan penyerangan terhadap Iran.
Pengamatan ini didasarkan pada dua kapal induk Amerika yang sudah merapat di Timur Tengah. Sementara itu, Iran juga menyiapkan pasukannya untuk melakukan perlawanan jika terjadi serangan. Menurut Ibrahim, jika terjadi perang, kemungkinan besar akan berlangsung lama karena kekuatan militer Iran.
Selain itu, pasukan Cina dan Rusia juga telah berada di Timur Tengah, sehingga berpotensi membuat perang berlangsung lebih lama. Kondisi ini dapat mengganggu pasokan minyak mentah dunia, sehingga harga minyak akan naik. Kenaikan harga minyak tersebut berdampak pada inflasi, yang akhirnya memengaruhi kenaikan harga emas dunia.
Faktor Kedua: Kondisi Politik di Amerika Serikat
Kondisi politik di Amerika Serikat semakin memanas setelah Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa Trump tidak memiliki wewenang menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional untuk memberlakukan tarif perang dagang. Artinya, perang dagang yang dilakukan oleh Trump dianggap ilegal.
Menanggapi sikap Mahkamah Agung, Trump menerapkan penurunan biaya impor menjadi 10 persen. Selanjutnya, perlawanan Trump kemungkinan besar akan memperburuk situasi politik di negaranya.
Faktor Ketiga: Kebijakan The Fed
Ibrahim mengatakan bahwa ada indikasi Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell akan menurunkan suku bunga sebanyak dua kali meskipun data ketenagakerjaan Amerika terus membaik, pengangguran terus menurun, dan inflasi pun juga terus membaik.
Ia memperkirakan, setelah Powell lengser pada Mei, penggantinya yakni Kevin Walsh kemungkinan akan sering menurunkan suku bunga. Jika demikian, kondisi dolar akan melemah dan berdampak positif terhadap pergerakan harga emas dunia.
Faktor Keempat: Penawaran dan Permintaan
Harga emas juga dipengaruhi oleh sisi penawaran dan permintaan. Ibrahim menjelaskan bahwa permintaan emas cukup tinggi tetapi barangnya tidak mencukupi. Bahkan, produksi emas dari 80 perusahaan tambang dunia kemungkinan besar akan habis pada 2028.
Sehingga, diperlukan pencarian tambang baru untuk mendapatkan logam mulia. Kondisi ini kemungkinan besar akan membuat harga emas dunia mengalami lonjakan pada pekan depan.





