JAKARTA — Harga logam mulia mengalami peningkatan signifikan akibat ketegangan yang memanas di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran telah mendorong investor untuk beralih ke aset-aset safe haven seperti emas dan perak.
Berdasarkan data dari Bloomberg, harga emas spot terpantau naik sebesar 2,4% menjadi US$5.406,27 per troy ons pada pukul 15.46 waktu Singapura, Senin (2/3/2026). Sementara itu, harga perak juga meningkat sebesar 2,4% menjadi US$96,04 per ons. Harga platinum naik 1,7%, sedangkan paladium meningkat 3,1%.
Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga emas sempat melonjak 2,7% dan terus melanjutkan kenaikan lebih dari 3% dalam pekan lalu. Konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu serangkaian serangan, termasuk serangan militer AS dan Israel terhadap Iran. Teheran langsung merespons dengan melepaskan gelombang serangan rudal ke berbagai target basis militer AS di negara-negara Teluk.
Selain itu, ketegangan geopolitik serta kebijakan presiden AS Donald Trump turut mengguncang dinamika hubungan internasional dan perdagangan lintas batas. Kondisi ini berdampak pada reli panjang terhadap harga emas.
Tidak hanya itu, pembelian emas oleh bank sentral serta perubahan arah investasi dari obligasi dan mata uang ke aset logam mulia turut mendukung kenaikan harga. Hingga saat ini, harga emas telah naik sekitar seperempat, meskipun sempat mengalami koreksi tajam dari rekor tertinggi di atas $5.595 per ons pada akhir Januari.
Analis dari Franklin Templeton Institute, Stephen Dover, menulis bahwa logam mulia cenderung diuntungkan ketika sentimen pasar lebih mengutamakan “premi risiko terlebih dahulu, fundamental kemudian.” Ia menyarankan investor untuk memiliki eksposur emas secara selektif dibandingkan posisi jual luas pada saham.
Sebelum menyerang Iran, agresi Trump sudah dimulai dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari. Selain itu, AS juga memperburuk tensi global dengan usulan ingin mencaplok Greenland.
Pada Sabtu (28/2/2026), AS dan Israel kembali melakukan serangan ke berbagai wilayah di Iran sambil menyerukan rakyat untuk bangkit melawan rezim Islam. Serangan balasan dari Teheran menghantam target di Israel, serta pangkalan dan lokasi militer AS di beberapa negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.
Trump menyatakan bahwa pasukan AS akan terus membombardir Iran hingga tujuannya tercapai. Sementara itu, kepala keamanan nasional Iran, Ali Larijani, mengatakan di platform X bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS.
Harga minyak melonjak paling tinggi dalam empat tahun saat pasar dibuka hari ini, dengan ancaman penutupan efektif Selat Hormuz yang mengancam gangguan pasokan minyak mentah. Kenaikan harga minyak kemudian menyusut sebelum kembali melonjak setelah Saudi Aramco menghentikan operasi di sebuah kilang di Arab Saudi akibat serangan drone di wilayah tersebut.
Dolar AS juga menguat, dengan indeks dolar AS menanjak hingga 0,7%. Hong Hao, kepala investasi Lotus Asset Management Ltd., mengatakan bahwa harga logam mulia, minyak, dan komoditas naik meskipun dolar menguat kembali. Biasanya, harga dolar AS bergerak bertolak belakang dengan harga logam mulia, minyak, dan komoditas lainnya.
“Ini menunjukkan bahwa aset berwujud tersebut adalah mata uang keras yang sesungguhnya di tengah periode luar biasa ini,” ujarnya.





