Pergerakan Harga Komoditas Energi Akibat Ketegangan Geopolitik
Ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran telah memicu kenaikan signifikan pada harga komoditas energi. Hal ini berdampak langsung pada saham-saham sektor energi yang mengalami lonjakan tajam dalam perdagangan Senin (2/3/2026). Data dari Bloomberg pada Selasa (3/3/2026) pukul 01.55 WIB menunjukkan bahwa harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 melonjak 5,9% ke level US$ 70,91 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 juga naik 6,5% ke level US$ 77,6 per barel.
Selain itu, harga gas dunia meningkat sebesar 4,35% menjadi US$ 2,98 per MMBTU. Namun, harga batubara dunia sedikit terkoreksi sebesar 0,55% menjadi Rp 118,50 per ton.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Menurut Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas, penutupan penuh Selat Hormuz oleh Iran menciptakan efek shock effect terhadap pasokan minyak dan gas dunia. Hal ini menyebabkan lonjakan tajam pada harga komoditas tersebut. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa 20% aktivitas perdagangan migas global melalui Selat Hormuz, sehingga penutupan jalur ini sangat berpengaruh.
Namun, dalam kondisi saat ini, pergerakan harga lebih merefleksikan risk premium jangka pendek karena arus suplai global belum benar-benar terhenti. Pasar minyak dunia belum sepenuhnya masuk fase defisit struktural. Meskipun kapasitas cadangan menyempit, riwayat kelebihan pasokan dan fleksibilitas produksi membuat reli harga komoditas ini masih tergolong rapuh dan ditopang oleh peristiwa, bukan supercycle berbasis fundamental.
Lonjakan Harga Saham di Sektor Energi
Seiring dengan kenaikan harga komoditas minyak dan gas, sejumlah saham di sektor energi turut mengalami kenaikan. Contohnya, harga saham PT Medco Energi International Tbk (MEDC) meroket 15,56% ke level Rp 1.995 per saham pada penutupan perdagangan Senin (2/3). Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga naik tajam 25% ke level Rp 2.200 per saham.
Emiten jasa migas seperti PT Elnusa Tbk (ELSA) mengalami lonjakan harga saham sebesar 17,65% ke level Rp 1.000 per saham. Sama halnya dengan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang mengalami kenaikan harga saham 25% ke level Rp 310 per saham. Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) juga meroket 24,04% ke level Rp 258 per saham.
Sementara itu, meski harga batubara sedikit koreksi, sejumlah saham di subsektor ini justru menghijau. Misalnya, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 5,77% ke level Rp 2.750 per saham. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 7,03% ke level Rp 9.900 per saham, sementara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat kenaikan harga saham 3,18% ke level Rp 23.500 per saham. Ada pula saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang mengalami lonjakan harga 15,53% ke level Rp 4.240 per saham.
Prediksi dan Strategi Investasi
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyatakan bahwa penguatan tajam harga beberapa saham energi tidak lepas dari ekspektasi lonjakan harga minyak, gas, dan batubara dunia seiring konflik bersenjata di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Lonjakan harga komoditas ini mendorong prospek earnings per share (EPS) emiten energi menjadi lebih baik dalam waktu dekat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa ketika harga komoditas energi membara, emiten di sektor tersebut berpeluang menikmati penguatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) produknya sekaligus mencetak kenaikan laba bersih. Namun, tantangannya ada pada cost production yang jika tinggi maka akan mempengaruhi laba.
Secara teknikal, Nafan memperkirakan bahwa harga komoditas seperti minyak dunia berpotensi breakout dari downtrend channel. Target teoritis harga komoditas ini bisa mencapai US$ 92 per barel. Namun, biasanya pelaku pasar sudah mengekspektasikan risiko konflik di Timur Tengah. Alhasil, ada kemungkinan kenaikan harga minyak dunia akan lebih terbatas dan bahkan bisa sewaktu-waktu terkoreksi ketika ada sentimen meredanya konflik.
Abida menyarankan strategi entry on weakness atau trading range dengan target harga dan stop loss untuk mengelola risiko volatilitas tinggi. Sejumlah saham dapat dipertimbangkan seperti MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham, AADI dengan target harga Rp 10.000 per saham, dan ADRO Rp 2.500 per saham.
Di lain pihak, Nafan menyarankan maintain buy sejumlah saham energi seperti AKRA, RATU, ADMR, ADRO, INDY, dan PTBA.





