Lonjakan Harga Minyak Dunia Akibat Ketegangan di Timur Tengah
Harga minyak dunia kembali mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Senin, 2 Maret. Kenaikan ini terjadi seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Selain itu, penutupan jalur vital perdagangan minyak global, yaitu Selat Hormuz, oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) turut berkontribusi terhadap kenaikan harga.
Berdasarkan data dari Trading Economics, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 12 persen pada Senin pagi atau saat pembukaan perdagangan. Harga minyak mentah Brent menembus angka US$ 78,2 per barel, yang lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan pada 28 Februari yang tercatat sebesar US$ 72,8 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan menjadi sekitar US$ 71,9 per barel. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding penutupan perdagangan pada 28 Februari yang mencatatkan harga sebesar US$ 67,2 per barel.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi gabungan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa serangan tersebut menewaskan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Israel serta beberapa pangkalan militer di kawasan Timur Tengah yang menjadi tempat pasukan AS beroperasi.
Kondisi konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Diberitakan oleh Daily Mail pada 2 Maret 2026, Donald Trump menyatakan kemungkinan perang dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu ke depan.
Pakar industri migas dari Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal, menyatakan bahwa harga komoditas minyak dan gas berisiko melonjak lebih tinggi di tengah situasi yang memanas di kawasan Timur Tengah. Ia menyoroti adanya blokade Selat Hormuz sebagai salah satu faktor utama.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen dari perdagangan migas dunia. “LNG, minyak, BBM, dan lain sebagainya kebanyakan lewat Selat Hormuz untuk dikirim ke Timur Tengah maupun Eropa,” ujar Moshe Rizal ketika dihubungi pada Ahad, 1 Maret 2026.
Setelah Iran menutup Selat Hormuz, perdagangan harus beralih ke jalur lain. Namun, proses perubahan jalur ini tidak mudah dan ongkos pengiriman yang dikeluarkan juga lebih mahal. Akibatnya, dampaknya harga minyak dunia kemungkinan akan meningkat tajam dalam waktu dekat.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz memiliki dampak luas terhadap rantai pasokan minyak global. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain:
- Kenaikan biaya pengiriman: Beralih ke jalur alternatif memerlukan waktu dan sumber daya tambahan, sehingga biaya pengiriman meningkat.
- Keterlambatan distribusi: Perubahan jalur dapat menyebabkan keterlambatan dalam pengiriman minyak ke pasar-pasar utama.
- Kenaikan harga global: Biaya produksi dan distribusi yang meningkat akan berdampak langsung pada harga minyak di pasar internasional.
Dengan kondisi ini, para pemangku kepentingan di seluruh dunia mulai memantau situasi secara lebih ketat. Pemantauan ini penting untuk mengantisipasi fluktuasi harga yang mungkin terjadi di masa mendatang.





