Harga minyak kedelai tembus rekor tertinggi sejak 2024 imbas serangan Israel ke Iran

Aa1xl2eu
Aa1xl2eu

Harga Minyak Kedelai Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Tahun

Harga minyak kedelai mengalami lonjakan signifikan, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Lonjakan ini terjadi setelah harga minyak mentah mengalami kenaikan tajam pasca-serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Pergerakan harga ini menjadi indikasi kuat bahwa sentimen pasar energi sedang memanas.

Berdasarkan data dari CME, kontrak minyak kedelai yang paling aktif di Chicago terus meningkat dan kini diperdagangkan di kisaran lebih dari 60 sen per pon pada awal Maret 2026. Angka ini merupakan level tertinggi sejak awal 2024. Kenaikan ini juga menandai tren penguatan berkelanjutan selama enam sesi perdagangan berturut-turut.

Selama periode April 2025 hingga Maret 2026, harga minyak kedelai sempat berada dalam rentang 40 hingga 55 sen per pon. Namun, beberapa pekan terakhir menunjukkan reli yang sangat tajam. Pada perdagangan Senin, harga futures minyak kedelai melonjak hingga 3,9 persen sebelum sedikit mengalami penurunan. Meskipun begitu, tren penguatan masih terlihat jelas.

Lonjakan harga minyak mentah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak kedelai. Kenaikan minyak mentah biasanya membuat bahan bakar alternatif seperti biodiesel menjadi lebih kompetitif, sehingga meningkatkan permintaan terhadap minyak nabati, termasuk minyak kedelai.

Joe Davis, Direktur di Futures International LLC, menyatakan bahwa “Pekan ini minyak kedelai akan seperti magnet terhadap pergerakan minyak mentah menyusul serangan di Iran.” Hal ini menunjukkan bahwa sentimen pasar sangat sensitif terhadap peristiwa geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak mentah sendiri sempat melonjak tajam, mencapai tingkat tertinggi dalam empat tahun terakhir, namun kemudian kembali terkoreksi. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan berkepanjangan, terutama di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak global.

Di sisi lain, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan dagang China. Beijing mengumumkan akan menerapkan bea masuk anti-dumping sebesar 5,9 persen terhadap impor rapeseed dari Kanada mulai 1 Maret. Angka ini lebih rendah dibanding tarif sementara yang diumumkan tahun lalu. Kebijakan ini diambil setelah China mencabut tarif atas rapeseed meal asal Kanada setelah kunjungan Perdana Menteri Mark Carney pada Januari.

Kombinasi antara ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan dinamika kebijakan perdagangan global telah membawa kembali kegairahan di pasar minyak nabati. Minyak kedelai menjadi salah satu komoditas yang paling diuntungkan dari situasi ini. Pergerakan harga yang stabil dan tren penguatan yang terus berlangsung menunjukkan bahwa minyak kedelai akan tetap menjadi fokus utama para investor dan pelaku pasar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak Kedelai

  • Peristiwa Geopolitik: Serangan AS dan Israel terhadap Iran memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang berdampak langsung pada harga minyak mentah.
  • Kenaikan Harga Minyak Mentah: Kenaikan harga minyak mentah membuat biodiesel lebih kompetitif, sehingga meningkatkan permintaan terhadap minyak nabati.
  • Kebijakan Dagang China: Penetapan bea masuk anti-dumping terhadap rapeseed dari Kanada memengaruhi dinamika pasar minyak nabati.
  • Sentimen Pasar Energi: Kepercayaan pasar terhadap stabilitas pasokan minyak global turut memengaruhi pergerakan harga minyak kedelai.

Pos terkait