Harga minyak melonjak akibat ketegangan AS vs Iran di Selat Hormuz

Aa1xlgdq
Aa1xlgdq



JAKARTA — Harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam dan mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Senin (2/3/2026), harga minyak Brent untuk pengiriman Mei naik sebesar 6,99% menjadi US$77,96 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April menguat 6,61% ke level US$71,45 per barel. Harga minyak acuan global Brent sempat melonjak hingga 13%, yaitu tingkat tertinggi sejak Januari 2025, sebelum stabil di kisaran US$76 per barel atau naik sekitar 5%.

Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur penting yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan volume besar gas alam, dilaporkan sebagian besar terhenti. Banyak pemilik kapal dan pelaku perdagangan memilih untuk menghentikan sementara pelayaran akibat eskalasi konflik. Meskipun otoritas Iran menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, mereka juga mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukan Amerika telah menenggelamkan sembilan kapal angkatan laut Iran dan menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga target tercapai.

Dampak Ekonomi yang Meluas

Pergerakan tajam harga minyak pada awal pekan turut memengaruhi aset lainnya. Harga emas, yang biasanya dianggap sebagai aset lindung nilai, sempat melonjak sebelum kembali menurun. Sementara itu, indeks saham global mengalami tekanan awal sebelum sedikit pulih. OPEC+ dalam pertemuan akhir pekan menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai bulan depan. Aliansi yang mencakup Iran, Arab Saudi, dan Rusia tersebut sebelumnya diperkirakan akan melanjutkan kenaikan produksi secara bertahap sebelum pecahnya konflik pada Sabtu.

Perang ini menandai fase berbahaya baru bagi pasar minyak global. AS dan Israel meluncurkan serangan rudal ke berbagai target di Iran, sementara Teheran membalas dengan serangan ke Israel serta pangkalan AS dan target lain di beberapa negara seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan tersebut.

Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, menilai harga minyak dapat kembali turun jika lalu lintas tanker segera pulih atau terdapat deeskalasi melalui diplomasi. “Jika tidak, harga kemungkinan akan bertahan di level tinggi,” ujarnya.

Prediksi Harga Minyak dan Prospek Pasar

Sepanjang tahun ini, harga minyak mencatat kenaikan dua bulan berturut-turut di tengah ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan di berbagai wilayah, meskipun sebelumnya pasar memperkirakan potensi surplus akibat peningkatan produksi OPEC+ dan negara nonanggota. Analis Citigroup Inc. memperkirakan Brent berpotensi bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel setidaknya dalam sepekan ke depan. Sementara itu, Morgan Stanley menaikkan proyeksi harga Brent kuartal II menjadi US$80 per barel dari sebelumnya US$62,50.

Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari atau sekitar 3% dari output global. Namun, pengaruhnya terhadap pasokan energi jauh lebih besar karena posisinya yang strategis di sekitar Selat Hormuz. Minyak dari Teluk Persia harus melewati jalur tersebut untuk mencapai pasar utama seperti China, India, dan Jepang.

AS Lanjutkan Serangan

Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump menyebut AS berencana melanjutkan serangan terhadap Iran selama empat hingga lima pekan. Dia juga membuka peluang pencabutan sanksi apabila kepemimpinan baru Iran menunjukkan sikap pragmatis. Analis Goldman Sachs Group Inc. menyatakan lalu lintas tanker tampak terganggu signifikan karena banyak perusahaan pelayaran, produsen minyak, dan perusahaan asuransi mengambil sikap menunggu perkembangan. Meski demikian, belum ada konfirmasi kerusakan pada fasilitas produksi maupun infrastruktur ekspor minyak.

Menurut konsultan energi Wood Mackenzie, harga minyak berpotensi melampaui US$100 per barel apabila arus kapal tanker di Selat Hormuz tidak segera pulih. Bahkan dengan tambahan produksi OPEC pada April, volume ekstra tersebut tidak akan dapat diakses jika jalur perairan tersebut tetap tertutup.

Pos terkait