Harga minyak naik 8 persen setelah serangan AS-Israel ke Iran, Brent mencapai 79 dolar AS

Aa1tisut 1
Aa1tisut 1



New York — Harga minyak mengalami kenaikan signifikan saat perdagangan dimulai pada hari Minggu (1/3/2026), setelah terjadi serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut diikuti oleh respons balasan yang menargetkan Israel dan instalasi militer AS di kawasan Teluk. Situasi ini memicu gangguan dalam rantai pasok energi global, yang berdampak langsung pada pasar minyak.

Para pelaku pasar memperkirakan bahwa pasokan minyak dari Iran dan kawasan Timur Tengah bisa melambat atau bahkan terhenti. Serangan yang terjadi di berbagai titik, termasuk terhadap dua kapal yang melewati Selat Hormuz, menjadikan jalur sempit di mulut Teluk Persia sebagai penghalang utama bagi kemampuan negara-negara pengekspor untuk mengirimkan minyak ke pasar global.

Menurut analis energi, serangan yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bensin. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan utama di AS, diperdagangkan sekitar 72 dolar AS per barel pada malam Minggu, naik sekitar 8 persen dibandingkan posisi 67 dolar AS pada Jumat, berdasarkan data CME Group.

Sementara itu, minyak mentah Brent, patokan internasional, diperdagangkan sekitar 79 dolar AS per barel, meningkat sekitar 8 persen dari level 72,87 dolar AS pada Jumat, yang merupakan posisi tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, menurut data FactSet.

Kenaikan harga energi global berpotensi membuat konsumen membayar lebih mahal untuk bahan bakar dan kebutuhan pokok, terutama di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi di berbagai negara.

Selat Hormuz menjadi jalur penting dalam perdagangan minyak global. Sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, melewati selat tersebut, menjadikannya titik penyempitan paling krusial. Kapal tanker yang melintasi selat tersebut mengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), serta Iran.

Sebelumnya, Iran pernah menutup sebagian wilayah Selat Hormuz pada pertengahan Februari dalam rangka latihan militer. Langkah tersebut sempat mendorong harga minyak naik sekitar 6 persen dalam beberapa hari berikutnya.

Di tengah situasi ini, delapan negara anggota OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi minyak mentah. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam pertemuan yang telah dijadwalkan sebelum perang menyatakan bahwa produksi akan dinaikkan sebesar 206 ribu barel per hari pada April, lebih tinggi dari perkiraan analis.

Negara-negara yang meningkatkan produksi antara lain Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

“Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, arteri vital perdagangan dunia. Karena itu, pasar lebih mengkhawatirkan kelancaran arus pasokan dibandingkan kapasitas cadangan di atas kertas,” ujar Wakil Presiden Senior dan Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge León.

Ia menambahkan, jika arus pasokan melalui Teluk terganggu, tambahan produksi hanya akan memberi dampak terbatas dalam jangka pendek. Akses terhadap jalur ekspor menjadi jauh lebih penting dibanding target produksi semata.

Iran mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sebagian besar ke China. Jika ekspor tersebut terganggu, China kemungkinan harus mencari pasokan alternatif, yang berpotensi semakin mendorong kenaikan harga energi global.

Pos terkait