Potensi Kenaikan Harga BBM di Indonesia Akibat Ketegangan Iran dan AS
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) yang didukung oleh Israel berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Fahmy Radhi, menyatakan bahwa serangan pertama dari Israel ke Iran akan secara langsung memengaruhi harga minyak dunia.
“Jika serangannya ke Iran, itu pasti akan mempengaruhi harga minyak secara signifikan,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/2).
Fahmy menjelaskan bahwa Iran termasuk dalam 10 negara penghasil minyak terbesar di dunia. Selain itu, negara tersebut juga berada di Selat Hormuz, sebuah jalur penting bagi perdagangan minyak global. Jika Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah dan memblokir Selat Hormuz, maka harga minyak bisa mencapai 70-80 dolar AS per barrel, naik dari saat ini yang tercatat di angka 67,02 dolar AS per barrel.
Kondisi serupa pernah terjadi dalam peperangan tahun lalu, ketika Iran berhasil menembus pertahanan Israel dan pangkalan militer AS di kawasan. “Barangkali bisa di atas 70 (dolar AS per barrel) atau bahkan sampai 80 (dolar AS per barrel),” ujarnya.
Fahmy bahkan memprediksi bahwa harga minyak dunia bisa tembus 100 dolar AS per barrel jika Rusia, China, dan Korea Utara terlibat dalam peperangan. “Kondisi semacam itu saya prediksikan kemungkinan harga minyak bisa mencapai di atas 100 dolar per barrel,” tambahnya.
Dampak Perang Terhadap Indonesia
Perang Iran melawan Israel juga akan berdampak terhadap Indonesia. Fahmy menyebut bahwa Indonesia merupakan importir sebesar 1,2 juta barel BBM per hari. Jenis BBM yang sudah pasti terdampak kenaikan harga minyak global adalah Pertamax dan bahan bakar lain di atasnya. Sebab, harga BBM jenis tersebut diserahkan kepada fluktuasi harga minyak global.
“Pertamax pasti naik. Misalnya sekarang saja 67 (dolar AS per barrel) gitu ya, itu sesuai mekanisme pasar Pertamax ke atas naik, baik di SPBU Pertamina apalagi SPBU dari asing,” jelasnya.
Sementara itu, harga BBM jenis Pertalite dan Solar di SPBU Pertamina tidak naik karena ditopang APBN. “Kecuali pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar, itu baru akan menimpa pada konsumen,” tukasnya.
Meski dijaga dengan mekanisme subsidi, Fahmy menyatakan bahwa harga Pertalite dan Solar bukan berarti tidak berpotensi naik. Kenaikan harga minyak dunia yang tidak diikuti kenaikan Pertalite dan Solar di tingkat konsumen akan menambah beban APBN, mengingat subsidi yang disalurkan pemerintah.
Namun, pemerintah tidak akan sanggup lagi menahan subsidi BBM saat ini jika harga minyak dunia tembus 100 dolar AS per barel. “Kalau sudah di atas 100 (dolar AS per barel) saya kira APBN sudah tidak mampu lagi, maka pada saat itu pemerintah harus menaikkan,” jelasnya.
“Meskipun tidak proporsional dengan kenaikan harga minyak dunia, tetapi perlu ada kenaikan agar beban tadi itu tidak terlalu berat,” tambahnya.





