Kekhawatiran Geopolitik dan Dampaknya pada Pasar Finansial
Jakarta — Ketegangan geopolitik yang melibatkan serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran, Iran, memicu kekhawatiran terjadinya kelumpuhan rantai pasok global di Selat Hormuz. Wilayah ini merupakan arteri penting bagi perdagangan minyak dunia, sehingga ancaman penutupannya berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global.
Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, volatilitas pasar akan meningkat seiring dengan respons pelaku pasar terhadap risiko serangan balasan. Penutupan Selat Hormuz diperkirakan akan memicu pelarian modal ke dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah. Dalam situasi ketidakpastian ini, emas tidak lagi hanya menjadi instrumen lindung nilai inflasi, tetapi juga menjadi “put option” atau jaminan utama dalam menghadapi risiko geopolitik global.
KISI Sekuritas merekomendasikan saham sektor emas dengan status overweight. Salah satu pilihan utama adalah saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), karena didukung oleh peningkatan produksi emas. Menurut Wafi, BRMS sebagai proksi murni paparan emas domestik dengan volume produksi yang terus meningkat.
Selain itu, saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) diperkirakan akan mengalami lonjakan harga signifikan akibat dorongan sentimen investor ritel. Sementara untuk saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), investor diminta mencermati korelasi aset tembaga yang mungkin terdampak jika kekhawatiran resesi global muncul.
“Jika kekhawatiran resesi muncul, eksposur tembaga mereka berisiko menjadi pemberat, meskipun premi emas akan memberikan bantalan,” ujar Wafi dalam publikasi risetnya.
Strategi Investasi yang Direkomendasikan
Selain emas, investor disarankan menerapkan strategi barbell dengan melirik saham energi yang diuntungkan dari kenaikan harga minyak mentah Brent, serta konsumer yang memiliki lindung nilai terhadap penguatan dolar AS.
Abida Massi Armand, analis BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa meskipun harga emas telah melaju signifikan, saham-saham emiten tambang emas masih memiliki daya tarik kuat bagi investor ritel. Hal ini didorong oleh permintaan terhadap aset safe-haven yang tetap kokoh di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Emas tetap menarik untuk investor ritel karena permintaan terhadap aset safe-haven masih kuat dan koreksi belum tentu cepat terjadi. Namun, bagi yang konservatif, mungkin menunggu koreksi teknikal kecil sebelum masuk tetap menjadi pilihan bijak,” ujarnya.
Komposisi Portofolio dan Strategi Investasi
Terkait strategi menyusun komposisi portofolio, investor ritel disarankan untuk mulai meningkatkan eksposur pada aset defensif seperti saham emas ataupun instrumen aman lainnya sembari mempertahankan porsi kas yang cukup. Menurut Abida, memiliki cadangan kas yang cukup tidak hanya berfungsi sebagai peredam volatilitas portofolio, tetapi juga menyediakan likuiditas untuk menangkap peluang saat harga pasar bergerak tajam secara mendadak.
Bagi investor ritel dengan profil risiko moderat, strategi akumulasi bertahap untuk jangka menengah dianggap lebih rasional dibandingkan melakukan perdagangan jangka pendek. “Strategi akumulasi bertahap jangka menengah lebih rasional karena harga emas dan saham terkait saat ini dipengaruhi oleh faktor geopolitik yang fluktuasinya bisa sangat tajam dan sulit diprediksi jangka pendek,” ucapnya.
Data Harga Emas
Melansir data Bloomberg, Senin (2/3/2026), harga emas spot terpantau berada di level US$5.398,29 atau naik 2,26%. Adapun emas harga emas Comex juga mencatat penguatan sebesar 2,96% menjadi US$5.403,3 per troy ounce.
Aneka Tambang Tbk. – TradingView





