Harta Karun Bersejarah Muncul di Pedamaran OKI, Toko Perak Diserbu Penggemar Benda Antik

Milik Ajeng 45 Jalan R 1
Milik Ajeng 45 Jalan R 1

Fenomena Penjualan Harta Karun Antik di Pedamaran OKI

Pengalaman unik dan menarik terjadi di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang kini menjadi pusat perhatian masyarakat setempat. Banyak warga mulai mengeluarkan berbagai barang antik dan bernilai seni tinggi dari dalam lemari tua atau gudang rumah mereka untuk dijual. Hal ini memicu kehebohan, terutama di Toko Perak Mulia Lestarina yang kini menjadi tempat utama bagi para penjual.

Beragam Jenis Barang yang Dijual

Barang-barang yang dibawa oleh warga sangat beragam, mulai dari kerajinan perak ukir, kuningan lawas, logam, koin kuno hingga perhiasan emas dengan nilai seni tinggi. Beberapa di antaranya berasal dari masa penjajahan Jepang atau Belanda, seperti koin, tusuk konde, garpu, piring, dan perhiasan lainnya. Menurut pemilik toko, Mulia Lestarina, banyak barang antik yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat diminati.

“Ya memang saya membeli perak karena harganya sedang naik, jadi semua bahan yang mengandung kadar perak akan kita terima,” ujar Mulia saat memberikan keterangan di tokonya pada Senin (2/3/2026) sore.

Harga Jual yang Beragam

Setiap barang yang datang diperiksa dengan teliti untuk menentukan kadar logam dan nilai harga jualnya. Untuk perak, harga berkisar antara Rp 75.000 hingga 80.000 per gram, tergantung motif dan jumlah kadar. Sementara itu, untuk bahan kuningan, harga bisa mencapai Rp 200.000 per buah untuk barang yang bagus dan unik, sedangkan untuk barang kurang bagus dibeli kiloan mulai dari Rp 90.000 hingga 100.000, tergantung kondisi barangnya.

Warga Mencari Warisan Keluarga

Menurut Mulia, rata-rata barang yang dijual warga merupakan peninggalan atau warisan dari orang tua dan sanak saudaranya. “Mereka yang datang biasanya membawa barang warisan orang tua atau neneknya jaman dahulu. Mereka sengaja mencari di dalam rumah dan ada yang ketemu emas, perak dan segala macam yang bisa dijual,” katanya.

Beberapa warga juga datang hanya untuk melihat barang asli atau imitasi, tergantung dengan nasib mereka. Jika benar, mereka pulang dengan membawa uang.

Puncak Kehebohan Saat Bulan Puasa

Hebohnya warga yang berbondong-bondong datang untuk menjual perhiasan dan barang unik terjadi sejak bulan Februari 2026. Setiap harinya, ratusan orang silih berganti datang meminta mengecek. Puncaknya semakin ramai saat memasuki bulan puasa ditambah lagi akan mendekati lebaran ini. Penjual datang dari luar daerah seperti Indralaya dan Palembang.

Pengalaman Penjual Lokal

Salah satu penjual asal Desa Pedamaran 1, Novi, mengatakan sengaja datang mengadu nasib mengecek keaslian perhiasan hasil warisan neneknya. “Dapat perhiasannya pas lagi bersih-bersih lemari kebetulan mau lebaran, ketemu anting-anting, kalung, gelang dan lainnya,” ujarnya.

Dari puluhan jenis perhiasan yang dibawa hanya gelang perak yang laku terjual dengan harga Rp 240.000. Alhamdulillah bisa untuk membeli makanan berbuka puasa.

Contoh Lain dari Helen

Helen, seorang penjual lainnya, sengaja datang untuk menjual perhiasan dan alat memasak yang terbuat dari bahan kuningan. “Barang yang saya bawa simpanan dari bapak, kami keluarga sengaja beres-beres rumah untuk mencari cincin, gelang, keris ukuran kecil,” katanya.

Ternyata, yang laku terjual bekas wadah cetakan makanan berbahan kuningan seharga Rp 45.000. Lumayan uangnya untuk beli makanan.

Tren Baru di Kalangan Masyarakat

Selain Helen, banyak masyarakat lainnya yang sengaja mencari barang berharga peninggalan di dalam rumah untuk dijual kembali. “Banyak tetangga saya juga yang sengaja mencari barang-barang unik dan langka. Siapa tahu bisa laku terjual dan menghasilkan uang. Karena sekarang memang lagi viral,” pungkasnya.


Pos terkait