Peran dan Kiprah Sarifah Suraidah dalam Ruang Publik
Sarifah Suraidah Abidien Harum kini menjadi sorotan publik, baik dalam konteks politik maupun kehidupan pribadi. Sebagai istri Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Masud, ia tidak hanya dikenal karena posisi suaminya, tetapi juga karena gaya penampilannya yang mencuri perhatian serta laporan kekayaannya yang sangat besar. Aktivitasnya di media sosial, khususnya Instagram, sering kali menjadi bahan pembicaraan, terutama karena pilihan busana dan aksesoris yang menonjol.
Gaya berpakaian Sarifah sering kali mengundang beragam komentar dari warganet. Banyak pengguna media sosial menyebut penampilannya mirip dengan bangsawan Eropa atau perempuan Belanda era kolonial. Hal ini menjadikannya sebagai figur yang selalu menarik perhatian, baik dalam bentuk pujiannya maupun kritiknya.
Selain itu, statusnya sebagai pejabat negara turut mengundang perhatian terhadap laporan kekayaannya. Dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 22 Maret 2025 untuk periode tahun 2024, total kekayaan bersihnya mencapai sekitar Rp 166,5 miliar. Rincian tersebut menunjukkan bahwa aset tanah dan bangunan menjadi komponen utama, dengan nilai sekitar Rp 26,5 miliar. Properti tersebut tersebar di Jakarta Selatan, Samarinda, dan Penajam Paser Utara, dengan nilai tertinggi di Jakarta Selatan mencapai Rp 15 miliar.
Di samping itu, Sarifah juga melaporkan kepemilikan tiga kendaraan dengan total nilai Rp 250 juta, yaitu Suzuki X-Over tahun 2007, Honda Freed tahun 2008, dan Honda CRV tahun 2010. Komponen kas dan setara kas mencapai Rp 28 miliar, sedangkan harta lainnya bernilai Rp 224 miliar. Namun, ia juga melaporkan utang sebesar Rp 112,6 miliar, sehingga total kekayaan bersihnya adalah sekitar Rp 166,5 miliar.
Riwayat Karier dan Kehidupan
Sarifah lahir di Balikpapan pada 1 Januari 1981, memperlihatkan kedekatan historis dengan Kalimantan Timur. Sebelum masuk dunia politik, ia dikenal sebagai pengusaha yang memimpin PT Barokah Agro Perkasa selama hampir sepuluh tahun, mulai dari 2014 hingga 2023. Langkah politiknya mencapai babak baru saat ia resmi dilantik sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Golkar. Pencalonannya berasal dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, menggantikan posisi sang suami yang memilih maju dalam kontestasi pemilihan gubernur.
Di internal partai, ia juga dipercaya memimpin Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) Kalimantan Timur, menunjukkan peran strategisnya dalam organisasi. Selain itu, Sarifah juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia mendirikan komunitas Bestie Sarifah Suraidah (BSS) yang bergerak dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Melalui Harum Center Foundation, ia menginisiasi program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, serta kegiatan kemanusiaan yang fokus di Kalimantan Timur.
Polemik yang Menyeret Nama Sarifah
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, polemik yang melibatkan suaminya kembali menyeret namanya ke dalam pusaran perhatian publik. Kontroversi bermula dari rencana pengadaan mobil dinas operasional gubernur di Jakarta dengan nilai mencapai Rp 8,5 miliar. Dalam pernyataan terbuka pada Selasa (24/2/2026), Rudy Masud menolak jika harus menggunakan kendaraan kelas menengah dan menyebut tidak ingin masyarakat Kalimantan Timur dipandang rendah.
Berdasarkan data sistem Inaproc Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, kendaraan yang diproses merupakan SUV hybrid mewah berkapasitas mesin 2.996 cc dengan tenaga 434 HP serta dukungan motor listrik 140 kW. Kebijakan tersebut memicu aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Aliansi GERAM) pada Senin (23/2/2026). Menanggapi kritik yang berkembang, Rudy Masud meminta masyarakat tidak berprasangka negatif terhadap kebijakan tersebut.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia mobil dinas Pemprov Kaltim di Jakarta untuk mendukung aktivitas pemerintahan di ibu kota. Dasar hukum pengadaan itu, menurutnya, merujuk pada Permendagri Nomor 7 Tahun 2006. Ia juga mengaitkan kebijakan tersebut dengan posisi strategis Kalimantan Timur sebagai gerbang utama Indonesia seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Persepsi Publik terhadap Figur Pendamping Kepala Daerah
Dinamika yang berkembang memperlihatkan bahwa figur pendamping kepala daerah kini tak lagi berada di balik bayang-bayang kekuasaan. Eksposur gaya hidup, laporan kekayaan, kiprah politik, hingga aktivitas sosial menjadi elemen yang membentuk persepsi publik secara menyeluruh. Dalam konteks demokrasi yang menuntut transparansi dan akuntabilitas, nama Sarifah Suraidah Abidien Harum pun ikut berada dalam pusaran penilaian masyarakat terhadap citra dan praktik kekuasaan di daerah.





