Perawatan Paliatif: Pendekatan Baru yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Medis
Perawatan paliatif sering dianggap sebagai istilah yang hanya dikenal oleh kalangan medis. Namun, sebenarnya konsep ini sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi penyakit berat. Dengan cara meringankan beban fisik, pikiran, sosial, hingga spiritual, perawatan paliatif menjadi salah satu pendekatan yang bisa memberikan dukungan holistik.
Namun, apakah hanya tenaga medis saja yang bisa melakukan perawatan paliatif? Jawabannya adalah tidak. Seorang dosen ahli Bioetika dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr dr Raditya Bagas Wicaksono atau lebih dikenal dengan nama Dr Bagas, menawarkan perspektif baru tentang perawatan paliatif yang memadukan unsur kearifan lokal di Indonesia.
Pendekatan Berbasis Keluarga dan Budaya
Dr Bagas mengembangkan sebuah praktik perawatan paliatif berbasis rumah atau keluarga, dengan pendekatan etnografi yang menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam proses pengambilan keputusan medis. Ia menjelaskan bahwa dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan musyawarah keluarga, pendekatan ini menjadi perspektif baru dalam layanan kesehatan yang tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan kearifan lokal di Indonesia.
Studi Doktoral yang Berkontribusi untuk Masyarakat
Pendekatan ini merupakan hasil temuan Dr Bagas ketika melakukan studi doktoral di UMC yang terafiliasi dengan University of Amsterdam (UoA), Belanda. Ia mempertahankan riset berjudul “Home Palliative Care in Indonesia : An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values.” Riset ini diselesaikan dalam waktu yang relatif cepat, yakni 3 tahun 9 bulan, dibandingkan rata-rata studi doktoral di Belanda yang biasanya antara 4 sampai 8 tahun.
Komentar-komentar dari dosen pembimbing dan penguji internasional pada saat sidang disertasi akhir tahun 2025 lalu juga sangat positif. Riset Dr Bagas dinilai memberi kontribusi penting bagi pengembangan layanan paliatif di negara berkembang, terutama pada masyarakat dengan keterbatasan sumber daya namun memiliki jejaring keluarga yang kuat.
Komitmen untuk Membawa Perubahan
Sebagai penerima beasiswa LPDP dalam studi doktoralnya, Dr Bagas merasa memiliki amanah untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat Indonesia dari hasil studinya. Ia berjanji akan berkolaborasi dengan komunitas untuk mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas yang sensitif budaya lokal. Selain itu, mereka sedang menyusun buku panduan komunikasi sensitif budaya untuk pasien penyakit serius berdasarkan temuan penelitian ini.
Kepuasan dari Dekan Fakultas Kedokteran Unsoed
Dekan Fakultas Kedokteran Unsoed, Dr dr MM Rudi Prihatno MKes, menyebut perspektif baru yang dibawa Dr Bagas sebagai bukti bahwa lulusan Unsoed mampu bersaing di tingkat global sekaligus tetap berakar pada persoalan bangsa. Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Dr Bagas dan keluarganya, tetapi juga bagi Unsoed.
Kunci Sukses: Empati dan Keberpihakan
Keberhasilan Dr Bagas menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya tentang gelar dan publikasi, tetapi juga tentang empati dan keberpihakan. Dari Purwokerto hingga Amsterdam, Dr Bagas membawa satu gagasan sederhana namun mendalam, bahwa perawatan terbaik bagi pasien tidak hanya bersumber dari teknologi medis, melainkan juga dari sentuhan keluarga dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.




