Taman Krida Budaya Kota Malang Jadi Pusat Berburu Takjil Saat Ramadhan
Taman Krida Budaya di Kota Malang menjadi salah satu tempat yang paling diminati saat bulan Ramadhan. Setiap sore, taman ini berubah menjadi lautan manusia yang ramai dan penuh dengan aroma makanan lezat. Deretan pedagang takjil memenuhi sisi jalan, menawarkan berbagai jenis jajanan yang menggugah selera.
- Berbagai hidangan seperti kolak pisang, pastel, es buah, sate ayam, cilok, hingga aneka kue basah disajikan dalam tampah yang rapi. Suasana yang bising namun hangat ini menjadi pemandangan khas bagi warga Kota Malang saat menjelang berbuka puasa.
Azka Awaludin, seorang mahasiswa semester empat, sering kali menyusuri lapak-lapak takjil di Taman Krida Budaya. Ia membawa tas selempang dan mata yang teliti untuk memilih makanan yang akan dibeli. Bagi Azka, variasi makanan dan harga yang terjangkau menjadi alasan utama ia datang ke sini setiap hari.
Namun, meskipun banyaknya pilihan, Azka tetap selektif. Ia sadar bahwa tidak semua jajanan aman dari penggunaan bahan kimia, terutama pada masa Ramadhan yang permintaan meningkat. Untuk menghindari makanan berbahaya, Azka melihat dari corak warnanya.
“Saya biasanya lihat dari warnanya dulu. Kalau warnanya terlalu mencolok, apalagi terang banget, saya langsung skip. Biasanya itu pakai pewarna yang bukan untuk makanan,” ujarnya.
Ia juga mengamati cara pedagang menyiapkan makanan. Kebersihan menjadi indikator lainnya. Azka lebih memilih pedagang yang menggunakan sarung tangan atau penjepit, serta menutup dagangan dengan plastik mika.
“Kalau jajanan yang dibiarkan terbuka, rawan kena debu atau asap motor. Jalanan kan ramai banget, lalu lintasnya padat,” katanya.
Keramaian di Taman Krida Budaya benar-benar terasa. Antrean pembeli terus mengular, suara tawar-menawar terdengar nyaring, sementara aroma makanan hangat bercampur dengan suara klakson kendaraan yang merayap pelan di ruas jalan.
Ramadan seolah menjadi magnet bagi seluruh warga sekitar untuk datang ke Pasar Takjil ini. Azka kemudian berhenti di lapak es buah. Ia menilai kesegaran bahan merupakan poin penting.
“Saya lihat dulu buahnya. Kalau sudah kecoklatan atau terlalu bening karena kebanyakan es, biasanya saya hindari.”
“Ia juga tanya ke penjual apakah pakai pemanis buatan atau sirup biasa,” ujarnya sebelum membeli satu gelas es buah.
Selain warna dan kebersihan, Azka juga menghindari makanan yang terlalu kenyal atau tidak wajar teksturnya. Menurutnya, hal itu bisa menjadi tanda penggunaan boraks atau formalin.
“Misalnya cilok atau bakso, kalau terlalu keras dan bisa mental, saya biasanya nggak berani beli. Lebih baik pilih yang teksturnya lembut,” katanya sambil tertawa.
Setelah berkeliling hampir 20 menit, Azka akhirnya memilih menu berbuka: es buah, dua pastel, dan seporsi sate ayam panggang yang dimasak langsung di tempat. Ia memilih makanan yang matang sempurna dan tidak disajikan berulang kali.
Sambil menenteng bungkusan takjil, Azka mengatakan bahwa memilih makanan sehat di tengah hiruk-pikuk pasar takjil bukan perkara sulit.
“Asal teliti, lihat warna, cek kebersihan, lihat cara masaknya, dan jangan tergiur harga murah saja. Kesehatan tetap nomor satu,” terangnya.




