Hormuz Tertutup: Bagaimana Prospek Saham SMDR, BULL, dan HUMI?



Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz memberikan dampak signifikan terhadap sektor pelayaran dan logistik energi global. Jalur laut ini menjadi jalur vital yang dilalui sekitar 30% perdagangan minyak dunia. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian dalam pergerakan pasar, baik dari sisi harga minyak maupun biaya operasional perusahaan pelayaran.

Analis pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa gangguan akses di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kenaikan harga minyak, tetapi juga menyebabkan lonjakan premi asuransi kapal, perubahan rute pelayaran, hingga kenaikan tarif angkut atau freight rate. Dalam situasi seperti ini, perusahaan tanker dan pelayaran justru berpotensi mendapatkan keuntungan jangka pendek karena tarif sewa kapal biasanya naik akibat tingginya risiko dan terbatasnya armada.

Hendra mengatakan, beberapa emiten pelayaran memiliki peluang untuk mendulang keuntungan dari situasi ini. Beberapa saham yang disebutkan antara lain PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HUMI), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), dan PT Soechi Lines Tbk (SOCI).

Sebelumnya, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan mengerahkan pasukan untuk menutup Selat Hormuz di tengah memanasnya situasi kawasan Timur Tengah. Selat yang berada di selatan Iran itu merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia. Menurut Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari, tidak ada kapal yang diperbolehkan melintas selama penutupan berlangsung.

Prospek Saham-Saham Pelayaran Imbas Ditutupnya Selat Hormuz

Hendra menjelaskan bahwa dari sisi strategi perdagangan saham, peluang pada emiten logistik berbasis energi dinilai menarik secara taktis. SMDR direkomendasikan sebagai speculative buy dengan target harga Rp 470. Meskipun tidak sepenuhnya berfokus pada tanker minyak, sentimen kenaikan tarif pelayaran global dinilai dapat memberikan efek psikologis positif terhadap sahamnya.

Pada perdagangan terakhir, saham SMDR ditutup naik 1,52% ke level 400. Harga sahamnya melambung 29,03% sejak tiga bulan terakhir.

Adapun HUMI yang memiliki eksposur signifikan pada angkutan migas dinilai lebih sensitif terhadap kenaikan tarif. Saham ini juga direkomendasikan speculative buy dengan target Rp 320. Saham milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto ini tumbuh 0,86% atau 2 poin ke level 234 pada penutupan perdagangan Jumat (27/2) lalu. Saham HUMI melesat 70,80% dalam tiga bulan ke belakang.

BULL sebagai pemain tanker minyak berpotensi memperoleh keuntungan langsung dari lonjakan freight rate, dengan target optimistis jangka pendek di level Rp 600. Meski harga saham BULL tercatat anjlok 4,76% atau 25 poin ke level 500 pada perdagangan terakhir, sahamnya melonjak 66,07% dalam tiga bulan terakhir.

SOCI juga dinilai menarik dicermati dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp 800. Perseroan bergerak di bisnis tanker dan offshore support yang sensitif terhadap dinamika harga minyak dan distribusi energi. Saham SOCI naik 3,85% kemarin. Sementara dalam tiga bulan, harga sahamnya telah meroket 201,34%.

Menurut Hendra, jika konflik berlanjut dan harga minyak kembali menembus US$100 per barel, potensi kenaikan tarif angkut dinilai bisa lebih agresif sehingga membuka ruang penguatan lanjutan pada saham-saham tersebut. Namun demikian, risiko tetap perlu diperhitungkan. Jika eskalasi konflik berkembang menjadi perlambatan ekonomi global dan menekan volume perdagangan, maka dalam jangka menengah kinerja sektor logistik bisa terdampak negatif.

Dengan demikian, peluang pada saham pelayaran saat ini lebih bersifat momentum dan taktis ketimbang investasi jangka panjang. Strategi yang dinilai relevan adalah disiplin pada level masuk, menjaga manajemen risiko, serta memanfaatkan volatilitas pasar tanpa terjebak euforia sentimen.

Pos terkait