Tingkat Hunian Kamar di Platinum Hotel Balikpapan Menurun Selama Ramadan 2026
Sejak memasuki bulan Ramadan 2026, tingkat hunian kamar di Platinum Hotel Balikpapan mengalami penurunan signifikan. Rata-rata okupansi berada di kisaran 30 hingga 35 persen, bahkan sempat turun ke angka 25 persen pada awal masa puasa. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi industri perhotelan di kota ini sedang menghadapi tantangan yang cukup berat.
General Manager Platinum Hotel, Soegianto, menjelaskan bahwa sejak hari pertama Ramadhan pada 19 Februari 2026 hingga saat ini, tingkat hunian belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Ia menyebutkan bahwa situasi tahun ini lebih buruk dibandingkan dengan periode Ramadhan 2025.
“Belum ngangkat sama sekali. Lebih baik tahun lalu,” ujarnya, Minggu (1/3/2026). Ia juga menambahkan bahwa rangkaian event besar yang digelar pada Februari seperti Great Sale HUT Kota Balikpapan, perayaan Imlek, hingga Valentine tidak mampu meningkatkan okupansi secara signifikan.
Selama bulan Februari, tingkat hunian hotel tetap bertahan di sekitar 30 persen. Memasuki awal Ramadan 2026, tren tersebut masih terus berlangsung. Soegianto menilai bahwa kondisi efisiensi anggaran yang dilakukan oleh berbagai pihak turut memengaruhi pergerakan industri perhotelan. Pemerintah dan korporasi kini cenderung memilih hotel dengan harga lebih terjangkau.
Dampaknya, hotel bintang dua dan tiga dalam beberapa kasus justru mencatat performa lebih baik dibanding hotel bintang empat dan lima. “Mungkin karena efisiensi, jadi cari harga yang sesuai budget,” tambahnya.
Selain faktor efisiensi, suasana pusat perbelanjaan di Balikpapan juga dinilai tidak seramai Ramadhan tahun sebelumnya, yang biasanya berdampak positif terhadap tingkat hunian hotel.
Meski demikian, Platinum Hotel tetap menaruh harapan pada momentum Lebaran 2026. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, lonjakan okupansi biasanya terjadi pada hari pertama hingga kedua Idulfitri. Soegianto menyebut momen staycation keluarga menjadi peluang terbesar untuk mendongkrak okupansi, terutama bagi warga sekitar yang ingin menikmati libur Lebaran tanpa bepergian jauh ke luar kota.
“Biasanya bukan H-1, tapi H+1 dan H+2 yang ramai. Banyak keluarga yang staycation. Kita tetap optimis. Mudah-mudahan mendekati Lebaran 2026 (okupansi) mulai naik,” pungkasnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Okupansi
-
Kebijakan Efisiensi Anggaran
Pemerintah dan korporasi kini lebih memilih hotel dengan harga terjangkau, sehingga hotel bintang dua dan tiga justru lebih diminati daripada hotel bintang empat dan lima. -
Perubahan Perilaku Konsumen
Tren staycation keluarga menjadi salah satu strategi untuk mengisi okupansi hotel selama libur Lebaran. Banyak keluarga memilih untuk tidak melakukan perjalanan jauh, namun tetap merayakan liburan bersama. -
Pengaruh Event Lokal
Meskipun ada berbagai event besar yang digelar, seperti Great Sale HUT Kota Balikpapan, perayaan Imlek, dan Valentine, dampaknya terhadap okupansi hotel masih terbatas. -
Kondisi Ekonomi
Situasi ekonomi yang tidak stabil memengaruhi pengeluaran masyarakat, termasuk dalam hal perjalanan dan akomodasi.
Harapan untuk Momentum Lebaran 2026
Meskipun saat ini tingkat hunian kamar masih rendah, manajemen Platinum Hotel tetap optimis bahwa ada potensi peningkatan pada hari pertama dan kedua Idulfitri. Dengan adanya tren staycation keluarga, hotel berharap dapat meningkatkan okupansi dan memberikan pengalaman liburan yang nyaman bagi para tamu.





