Pengalaman Mencekam Seorang Ibu Rumah Tangga di Doha, Qatar
Ni Made Meli Arisandi, seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Desa Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, mengalami pengalaman mencekam akibat ketegangan di Timur Tengah yang pecah pada Sabtu (28/2). Ia dan anak bungsunya, Omang, tinggal di Al-Saad, Doha, Qatar. Situasi mulai berubah drastis saat temannya dari Bandara Ngurah Rai Bali menanyakan kabar mereka karena beberapa bandara di wilayah Timur Tengah ditutup akibat eskalasi konflik antara Iran dan pihak Israel-AS.
“Saat saya sedang bermain bersama Omang, ada teman orang India menanyakan keadaan di Doha karena beberapa bandara tutup,” ungkapnya. Informasi tersebut kemudian terkonfirmasi setelah ia menghubungi temannya yang bekerja di bandara di Doha. “Teman saya membenarkan bandara di sini tutup,” tambahnya.
Setelah mendapat informasi bahwa bandara ditutup akibat perang, Made Meli segera mempersiapkan “run bag” yang berisi barang-barang penting untuk situasi darurat. Ia mengaku seperti mimpi karena melihat dan mengalami kejadian ini di tahun 2026. Sebagai penduduk Qatar, ia dan warga lainnya bergantung pada sistem peringatan dini yang dikirim langsung ke ponsel melalui aplikasi Metrash. Peringatan darurat tersebut muncul dalam dua bahasa (Arab dan Inggris) dengan bunyi alarm yang menyita perhatian.
“Sebelum serangan kami warga di sini akan mendapat peringatan dari handphone kami seperti alarm. Semua warga punya aplikasi Metrash namanya, di mana semua data kami ada di sana sebagai resident,” jelasnya. Isi pesan peringatan tersebut memerintahkan seluruh warga untuk segera mencari perlindungan: “All individuals are required to remain at home or in a safe place and not to go out except in cases of extreme necessity until the danger has passed.”
Per hitungan detik dari warning itu, serangan langsung terjadi. Suara dentuman keras dan jendela di bergetar. Lokasi tempat tinggalnya di Al-Saad berjarak 41 km dari Al-Udeid Air Base yang merupakan markas USA. Sehingga membuat suara rudal Iran yang mengarah ke markas militer AS di Doha terdengar jelas sampai di rumahnya.
Ia mengatakan suara rudalnya terdengar sangat intens dari pagi hingga malam dan pagi di hari selanjutnya. Dalam kondisi genting saat serangan terjadi, Made Meli mengaku tidak berani keluar rumah. “Apalagi kami berdua di sini karena bapaknya pas lagi di Bali dan belum bisa kembali karena bandara di Bali dan Doha tutup. Saya berdua bersama Omang saat serangan hanya diam di kamar mandi, karena dirasa paling aman jika sesuatu terjadi dan serpihan kaca jendela tidak mengenai kami,” ucapnya.
Selain itu, ia juga memasang dinding memakai kasur di kamar tidurnya untuk menjaga dan melindungi apabila kaca jendela sampai pecah sehingga tidak mengenai mereka berdua. “Tetap berdoa dan tenang dan siaga siap lari dengan run bag kami,” ujarnya.
Hingga Senin (2/3), Made Meli melaporkan situasi masih mencekam dengan terdengarnya tujuh kali dentuman rudal tambahan. Meski demikian, ia tetap berusaha tenang dan mengikuti instruksi dari pemerintah Doha. Ia berharap semua kembali seperti sedia kala dan bisa berkumpul seperti biasanya. Made Meli juga mengapresiasi kesigapan pemerintah Qatar.
“Kami sangat percaya Raja Qatar akan melindungi negara ini. Seperti apa yang mereka lakukan dari kemarin untuk melindungi rakyatnya, serangan dilakukan di atas laut perbatasan Qatar dan itu luar biasa,” kata dia.
Dampak Konflik di Timur Tengah pada Penerbangan dan Wisatawan Bali
Hingga kemarin penerbangan dari Bali ke Doha, Qatar dan sebaliknya masih dibatalkan dampak memanasnya konflik di Timur Tengah. Penerbangan ini dilayani oleh maskapai Qatar Airways dengan frekuensi terbang sehari dua kali pulang pergi. Protokol Konsuler KBRI di Doha, Qatar saat dikonfirmasi mengenai kondisi WNI dari Bali menyampaikan bahwa seluruh WNI di Qatar dalam kondisi baik. “Insyaallah seluruh warga Indonesia termasuk dari Bali di Qatar dalam kondisi baik. Mohon doakan semua akan kembali baik,” ucap Protokol Konsuler KBRI di Doha.
Di sisi lain, sebanyak 12 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Klungkung bekerja di negara UAE (Uni Emirat Arab) dan Kwait. Kedua negara tersebut merupakan wilayah yang juga menjadi sasaran serangan Iran, setelah konfrontasi dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Dinas Ketenagakerjaan Klungkung, Gusti Ayu Made Kusuma Asih mengatakan, 12 PMI tersebut terdiri dari pekerja di UAE sebanyak 4 orang dan di Kuwait sebanyak 8 orang. Warga tersebut di antaranya berasal dari Desa Akah, Desa Nyalian, maupun Desa Tegak.
“Sebagian besar PMI asal Klungkung yang bekerja di negara tersebut sebagai terapis di Spa. Ada juga seorang PMI yang bekerja sebagai barista di Kuwait,” ungkapnya, Senin (2/3).
Kebijakan Pemerintah dan Persiapan Darurat
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Klungkung I Nyoman Sidang menegaskan, pihaknya sedang mengintensifkan koordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Bali untuk memastikan keadaan terkini dari 12 PMI tersebut. “Kami di daerah, koordinasi dengan pemprov Bali, seperti apa komunikasi ke pusat. Kami harus terima update secara pasti, sehingga kami bisa sampaikan ke keluarga,” ungkap Nyoman Sidang saat ditemui di ruangannya, Senin (2/3).
Dari hasil koordinasi sementara, menurutnya KBRI di Kuwait, KBRI Bahrain, KBRI Yordania, KBRI Abu Dhabi telah mengeluarkan imbauan ke warga negara Indonesia ke wilayah tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperhatikan keselamatan diri. Sembari menjaga komunikasi dengan sesama masyrakat Indonesia, maupun dengan keluarga di tanah air. Serta menghubungi Hotline KBRI di masing-masing negara, jika membutuhkan bantuan. “Kami sedang meneruskan himbauan tersebut melalui website Sisnaker Klungkung dan group LPK,” jelas Sidang.





