IHSG Melemah 1,73 Persen Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Aa1tka0t 1
Aa1tka0t 1

Perkembangan IHSG dan Dampak dari Ketegangan Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin pagi dibuka melemah sebesar 142,59 poin atau 1,73 persen ke posisi 8.092,90. Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan turun sebesar 12,65 poin atau 1,52 persen ke posisi 821,71. Pergerakan ini menunjukkan adanya ketidakpastian di pasar modal akibat berbagai isu geopolitik yang sedang berkembang.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) serta ketegangan di kawasan Asia Selatan meningkatkan premi risiko global. Hal ini terutama dipengaruhi oleh situasi di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

“Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia,” ujar Imam.

Menurutnya, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, bersamaan dengan kebijakan perdagangan AS yang terus berubah, ditambah lembaga pemeringkat kredit memperingatkan tekanan fiskal yang meningkat di Indonesia. Kombinasi isu ini menciptakan kondisi kehati-hatian di pasar keuangan global hingga pasar domestik.

Dampak Ekonomi Global melalui Jalur Strategis

Konsekuensi dari eskalasi di Timur Tengah terasa secara ekonomi global melalui perkembangan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Jalur ini menjadi rute transit penting bagi sekitar 20-25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap harinya.

Penutupan atau gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global, karena jalur ini biasanya memfasilitasi perdagangan minyak mentah dan gas yang mencapai puluhan juta barel per hari. Hal ini juga berdampak terhadap kondisi harga minyak, rantai pasok energi, dan biaya asuransi pengiriman yang bisa melonjak tajam.

Namun demikian, harga minyak dan batu bara justru dapat menjadi penopang sektor energi dan pertambangan, terutama apabila harga komoditas bertahan tinggi. Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi, berpotensi diuntungkan dari sisi peningkatan harga jual rata-rata (ASP) dan potensi perbaikan margin emiten sektor terkait.

“Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global,” ujar Imam.

Risiko Inflasi dan Tekanan Nilai Tukar Rupiah

Di sisi lain, apabila eskalasi konflik menyebabkan lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dan tekanan nilai tukar Rupiah dapat meningkat. Ia menyebut bahwa kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui kenaikan nilai impor migas, sekaligus meningkatkan volatilitas Rupiah.

“Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko,” pungkas Imam.

Pos terkait