IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Perang Iran-Israel
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 3 Maret 2026, mengalami penguatan meskipun pasar tetap memantau perkembangan Perang Iran-Israel. IHSG dibuka dengan kenaikan sebesar 43,04 poin atau 0,54 persen ke posisi 8.059,87. Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan juga naik sebesar 5,20 poin atau 0,64 persen menjadi 817,69.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyampaikan bahwa investor saat ini sedang menimbang apakah situasi ini hanya merupakan shock jangka pendek atau konflik yang berlarut-larut. Ia menjelaskan bahwa kekhawatiran utama pelaku pasar adalah kemungkinan gangguan energi dan potensi inflasi baru. Sejarah menunjukkan bahwa saham global biasanya pulih relatif cepat setelah terjadi konflik, kecuali jika terjadi lonjakan harga energi yang berkepanjangan.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran, yang diikuti oleh serangan balasan dari Iran. Perang ini memicu gelombang risk-off secara global. Presiden Amerika, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi dapat berlangsung selama 4-5 pekan dan “selama diperlukan”, bahkan memiliki kapasitas untuk berlangsung lebih lama. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan bernegosiasi dengan Amerika.
Dari kawasan Eropa, gangguan pengiriman di Timur Tengah meningkatkan risiko inflasi dan membayangi prospek kebijakan European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE). Data inflasi Zona Euro dan ekonomi lainnya menjadi fokus utama dalam waktu dekat.
Di kawasan Asia, Bank of Japan (BoJ) menyatakan akan melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap menuju stance netral, dengan suku bunga saat ini sebesar 0,75 persen setelah empat kali kenaikan sejak 2024.
Dari dalam negeri, data PMI Manufaktur Indonesia naik menjadi 53,8 pada Februari 2026, meningkat dari 52,6 pada Januari 2026. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan permintaan baru yang memacu pertumbuhan produksi tercepat sejak awal 2024 serta ekspansi tujuh bulan beruntun, termasuk kenaikan pesanan ekspor tercepat sejak Mei 2022.
Sementara itu, data inflasi Indonesia meningkat menjadi 0,68 persen (month to month) pada Februari 2026, dari sebelumnya deflasi 0,15 persen pada Januari 2026. Inflasi tahunan berakselerasi menjadi 4,76 persen (year on year) pada Februari 2026 dari sebelumnya 3,55 persen pada Januari 2026, serta mencatatkan level tertinggi sejak Maret 2023.
Pada perdagangan Selasa, 2 Maret 2026, bursa saham Amerika seperti Wall Street mayoritas menguat. Sementara itu, bursa saham regional Asia pagi ini mengalami penurunan. Indeks Nikkei melemah sebesar 1.352,59 poin atau 2,33 persen ke posisi 56.704,60. Indeks Shanghai turun 32,58 poin atau 0,78 persen ke 4.150,00; indeks Hang Seng melemah 49,48 poin atau 0,19 persen ke 26.010,36; indeks Kuala Lumpur menguat 9,99 poin atau 0,59 persen ke 1.710,20; dan indeks Strait Times menguat 38,97 poin atau 0,80 persen ke 4.929,83.





