Pergerakan IHSG pada Hari Kamis, 19 Februari 2026
Pada hari Kamis, 19 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mengalami penguatan. Penguatan ini terjadi karena para pelaku pasar memiliki optimisme bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya.
IHSG dibuka dengan kenaikan sebesar 47,22 poin atau 0,57 persen, mencapai posisi 8.357,45. Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan juga mengalami kenaikan sebesar 3,83 poin atau 0,46 persen, berada di posisi 842,37. Dalam laporan riset mereka, Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menyatakan bahwa IHSG diperkirakan akan terus menguat pada hari ini.
Antisipasi Hasil Rapat Dewan Gubernur BI
Dari dalam negeri, para pelaku pasar sedang menantikan hasil dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Sebanyak 12 institusi keuangan memiliki konsensus bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, data inflasi Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen (year on year), yang menunjukkan bahwa inflasi masih terkendali. Dengan kondisi ini, ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka, dan kemungkinan akan dimulai pada Maret 2026, tergantung pada dinamika pasar.
Kenaikan Utang Luar Negeri Indonesia
Di sisi lain, utang luar negeri Indonesia pada kuartal IV-2025 mengalami peningkatan menjadi sebesar US$ 431,7 miliar. Penambahan utang ini terutama berasal dari utang pemerintah yang meningkat akibat masuknya dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN).
Meskipun utang luar negeri dapat berpotensi menekan Rupiah dan pasar obligasi, struktur utang luar negeri dinilai masih sehat. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,9 persen, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 85,7 persen, menunjukkan bahwa utang Indonesia masih dalam kondisi yang stabil.
Perkembangan Suku Bunga di Amerika Serikat
Dari luar negeri, risalah rapat FOMC The Fed periode Januari 2026 menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed sepakat untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Meski demikian, terdapat perbedaan pandangan mengenai langkah selanjutnya.
Sebagian dari anggota FOMC membuka peluang untuk penurunan suku bunga apabila inflasi Amerika Serikat melandai. Namun, sebagian lainnya masih mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter AS masih sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi global.





