Pergerakan IHSG di Awal Maret 2026 Diperkirakan Masih Fluktuatif
Pada awal Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi volatilitas akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta sentimen dalam negeri yang terkait dengan data inflasi. Hal ini menjadi perhatian utama bagi para analis dan investor pasar modal.
Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menilai bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu perubahan sikap investor global yang cenderung lebih defensif. Perubahan ini berpotensi menyebabkan arus dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Selama bulan Maret masih ada potensi penurunan harga saham karena konflik di Timur Tengah mendorong sentimen risk-off dan berisiko mendorong outflow dana,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa inflasi domestik akan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Proyeksi Pergerakan IHSG hingga Akhir Kuartal I 2026
Menurut Wafi, arah pergerakan IHSG hingga akhir kuartal pertama tahun 2026 sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik serta stabilitas nilai tukar rupiah. Ia memproyeksikan indeks tersebut akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar.
“Target IHSG hingga akhir kuartal I berada di kisaran 7.900 sampai 8.500, tergantung intensitas konflik dan kondisi nilai tukar,” jelasnya.
Prospek Sektor Energi yang Lebih Positif
Di tengah tekanan pasar, sektor energi dinilai memiliki prospek yang lebih positif. Ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu pasokan energi global, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia.
Wafi menjelaskan bahwa emiten hulu migas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berpeluang langsung menikmati peningkatan margin dari kenaikan harga komoditas.
Sementara itu, emiten di segmen distribusi dan infrastruktur energi seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dinilai diuntungkan oleh stabilitas volume penyaluran energi di tengah permintaan yang tetap kuat.
“Emiten hulu akan diuntungkan dari kenaikan harga energi, sedangkan perusahaan distribusi mendapat manfaat dari stabilitas permintaan,” paparnya.
Rekomendasi Strategi Investasi di Sektor Energi
Dari sisi strategi, Wafi merekomendasikan investor tetap selektif dalam memanfaatkan momentum di sektor energi di tengah volatilitas pasar. Ia memberikan target harga untuk sejumlah saham energi, yakni MEDC di Rp2.600, ENRG Rp2.500, PGAS Rp2.800, AKRA Rp1.700, dan RAJA Rp4.650.
Menurutnya, sektor energi berpotensi menjadi penopang kinerja pasar saham domestik selama ketidakpastian global masih berlangsung. Meski demikian, pergerakan IHSG secara keseluruhan tetap cenderung fluktuatif dalam jangka pendek.





