IHSG Melemah 2,04 Persen di Awal Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 2,04 persen menjadi 8.067,35 pada awal perdagangan. Pelemahan ini terjadi karena sentimen negatif akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Pada saat yang sama, transaksi pasar mencapai Rp7,47 triliun dengan melibatkan 13,13 miliar lembar saham.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 662 saham mengalami penurunan, sementara hanya 78 saham yang naik dan 219 saham stagnan. IHSG dibuka pada level 8.092,90, turun dari posisi penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026) di 8.235,49. Pada pukul 09.22 WIB, indeks berada di posisi 8.067,35 atau melemah 2,04 persen.
Pada periode tersebut, IHSG bergerak dalam rentang 8.039,51 hingga 8.132,09. Artinya, indeks belum berhasil menyentuh zona hijau. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih dalam kondisi fluktuatif dan tidak stabil.
Analisis Pasar oleh BRI Danareksa Sekuritas
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menjelaskan bahwa pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Menurutnya, risiko panic selling besar-besaran relatif terbatas kecuali terjadi eskalasi lanjutan yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, seperti gangguan serius pasokan energi dunia.
Reza memprediksi bahwa IHSG akan bergerak dalam area support 8.100–8.150 pada awal pekan. Jika tekanan global cukup besar, bukan tidak mungkin IHSG akan menguji area tersebut pada awal sesi. Namun, selama level ini bertahan, peluang technical rebound tetap terbuka. Resistance terdekat berada di kisaran 8.350–8.400.
Prediksi dan Potensi Pergerakan IHSG
Secara umum, IHSG berpotensi volatil dan menguji support pada awal perdagangan. Jika sentimen memburuk, indeks bisa turun di bawah 8.100. Namun, tanpa eskalasi lanjutan, peluang rebound tetap ada. Reza menegaskan bahwa risiko ada, tetapi belum mengubah tren secara signifikan.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG antara lain:
- Sentimen global: Konflik antara negara-negara besar dapat memicu ketidakstabilan pasar.
- Stabilitas ekonomi global: Gangguan pada pasokan energi atau krisis ekonomi dapat memengaruhi investor.
- Kebijakan moneter: Perubahan suku bunga atau kebijakan pemerintah juga berdampak pada pasar modal.
Kondisi Pasar Saat Ini
Pasar saham Indonesia masih dalam kondisi yang sensitif. Meskipun IHSG mengalami penurunan, potensi untuk rebound tetap terbuka jika sentimen membaik. Investor disarankan untuk tetap waspada dan memantau perkembangan situasi secara berkala.





