Pergerakan IHSG pada Senin Sore
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore mengalami penurunan, mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia. Hal ini disebabkan oleh pelaku pasar yang cenderung mengalihkan dananya ke aset safe haven, seperti emas hingga obligasi pemerintah.
IHSG ditutup melemah sebesar 218,65 poin atau 2,66 persen menjadi 8.016,83. Sementara itu, indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham unggulan, turun 21,87 poin atau 2,62 persen menjadi 812,49.
Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran akan perang terbuka. Hal ini membuat investor global lebih cenderung menghindari aset berisiko.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah juga menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi meningkatnya inflasi. Jika inflasi berlangsung lama, hal ini dapat mendorong kenaikan suku bunga di tingkat global.
Meskipun demikian, mayoritas saham-saham terkait energi dan tambang emas berhasil mencatat penguatan, sehingga membantu menahan pelemahan IHSG lebih lanjut.
Data Ekonomi Dalam Negeri
Dari data ekonomi dalam negeri, inflasi Indonesia meningkat menjadi 0,68 persen month to month (mtm) pada Februari 2026, dibandingkan dengan deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026.
Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau. Komoditas ini menjadi penyebab utama kenaikan inflasi selama momen Ramadan.
Inflasi tahunan juga mengalami akselerasi menjadi 4,76 persen year on year (yoy) pada Februari 2026, naik dari 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2023. Penyebabnya adalah diskon tarif listrik pada awal 2025, yang telah menekan harga tahun lalu.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan turun menjadi US$ 0,95 miliar pada Januari 2026, dibandingkan dengan US$ 3,49 miliar pada Januari 2025. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan impor sebesar 18,21 persen (yoy) dan pertumbuhan ekspor hanya sebesar 3,39 persen (yoy).
Data Manufacturing PMI Indonesia masih tumbuh di level 53,8 pada Februari 2026, naik dari 52,6 pada Januari 2026. Peningkatan ini terjadi karena adanya kenaikan permintaan domestik.
Perdagangan Saham
Pada sesi perdagangan saham, IHSG dibuka melemah dan tetap berada di zona negatif hingga penutupan sesi pertama. Di sesi kedua, IHSG tetap berada di zona merah hingga akhir perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, satu sektor menguat yaitu sektor energi, yang menguat sebesar 1,70 persen. Sementara itu, 10 sektor lainnya mengalami penurunan. Sektor barang konsumen non-primer turun paling dalam sebesar 7,41 persen, diikuti oleh sektor industri dan infrastruktur yang masing-masing turun 5,38 persen dan 4,34 persen.
Beberapa saham yang mengalami penguatan terbesar antara lain OILS, ENRG, RUIS, APEX, dan ELSA. Sedangkan saham-saham yang mengalami penurunan terbesar adalah TRUE, BUVA, BNBR, BELL, dan MINA.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.652.154 kali transaksi, dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 56,60 miliar lembar saham senilai Rp29,83 triliun. Sebanyak 108 saham naik, 671 saham menurun, dan 41 saham tidak bergerak nilainya.
Pergerakan Bursa Regional Asia
Di kawasan Asia, bursa saham regional pagi ini mengalami penurunan. Indeks Nikkei melemah sebesar 793,10 poin atau 1,35 persen menjadi 58.057,19. Sementara itu, indeks Shanghai menguat 19,70 poin atau 0,47 persen menjadi 4.182,58.
Indeks Hang Seng turun 570,68 poin atau 2,14 persen menjadi 26.059,84. Indeks Kuala Lumpur melemah 16,40 poin atau 0,96 persen menjadi 1.700,21. Terakhir, indeks Strait Times turun 104,20 poin atau 2,09 persen menjadi 4.890,85.





