IHSG Tertekan 2,66 Persen di Akhir Pembukaan Perdagangan Senin
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/3) mengalami penurunan signifikan sebesar 2,66 persen atau 218 poin, turun ke level 8.016,83. Sebelumnya, indeks sempat melemah ke posisi 8.092,90 saat pembukaan, dari tingkat penutupan perdagangan Jumat (27/3) yang berada di 8.235,49. Pelemahan indeks semakin dalam sekitar pukul 09.22, dengan posisi 8.067,35 atau melemah 2,04 persen.
Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), menyampaikan bahwa investor perlu tetap tenang dan rasional dalam menghadapi ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, gejolak pasar biasanya dipicu oleh sentimen jangka pendek dan pergeseran persepsi risiko, sehingga fluktuasi harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Ia menekankan pentingnya analisis fundamental bagi investor, termasuk memperhatikan kinerja keuangan, prospek bisnis, arus kas, serta posisi utang emiten. Keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada kepanikan atau spekulasi sesaat, melainkan pada perhitungan matang.
“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik global, kami mengimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey kepada wartawan.
Menurut Jeffrey, strategi investasi harus disesuaikan dengan profil dan toleransi risiko masing-masing investor. “Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor,” paparnya.
Perang AS-Iran Jadi Fokus Pasar
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menyatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan menjadi tema utama pasar di awal pekan perdagangan Maret 2026. Ia menilai wafatnya pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dapat meningkatkan ketidakpastian dan sulit diprediksi bagaimana akhir dari konflik ini.
“Kenaikan harga minyak tidak menguntungkan bagi negara net importir minyak seperti Indonesia,” katanya, Minggu (1/3).
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik juga memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang ke aset safe haven seperti emas. Ia memprediksi IHSG berpotensi mengalami koreksi wajar dan bearish consolidation. Namun, investor dapat mencermati saham berbasis energi serta logam dasar.
Dampak Konflik Geopolitik pada Harga Emas dan Saham Minyak
Ezaridho Ibnutama, Head of Research NH Korindo Sekuritas, menilai konflik saat ini mendukung peningkatan premi harga emas serta valuasi saham perusahaan minyak. Ia menjelaskan bahwa jalur logistik minyak dan gas global di Selat Hormuz berada di bawah kendali pemerintahan Ayatollah, sehingga tarif VLCC (Very Large Crude Carrier) akan terus mengalami tren kenaikan tajam.





