Perayaan Imlek dan Ramadan di Garut: Momentum Silaturahmi Lintas Agama
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kabupaten Garut. Kebetulan langka ini memicu terlaksananya acara silaturahmi lintas agama yang diinisiasi oleh Agustine Merdekawati, seorang notaris asal Garut. Acara ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga menjadi wadah untuk menegaskan toleransi beragama melalui praktik nyata.
Acara yang dihadiri oleh Forkopimda Garut, termasuk Bupati Abdusy Syakur Amin, Forum Kerukunan Umat Beragama, para pemuka agama, budayawan, serta pelaku usaha, menghadirkan tokoh dari berbagai latar belakang keyakinan. Dari Ketua Vihara Dharma Loka Garut Senjaya hingga perwakilan MUI, PCNU, gereja, pesantren, hingga tokoh budaya, semua hadir dalam satu ruang yang penuh keharmonisan.
Agustine Merdekawati menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pertemuan ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah kesempatan untuk memperkuat persatuan di tengah keragaman masyarakat Garut. Menurutnya, kehadiran berbagai latar belakang agama di sini adalah bukti bahwa persaudaraan kemanusiaan lebih kuat daripada perbedaan.
“Kehadiran kita di sini dari berbagai latar belakang keyakinan adalah bukti nyata bahwa persaudaraan kemanusiaan jauh lebih kuat daripada perbedaan yang ada,” ujar Agustine.
Ia menjelaskan bahwa bertepatannya Imlek dan Ramadan pada tahun ini membawa makna penting. Ornamen Imlek yang berpadu dengan atmosfer Ramadan mencerminkan keelokan kebhinekaan Indonesia, terutama di Garut. Baginya, tahun 2026 menjadi momen istimewa karena fenomena langka ini menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Agustine menekankan bahwa toleransi tidak berarti peleburan keyakinan, tetapi upaya menumbuhkan pemahaman dan rasa hormat antarpemeluk agama. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Forkopimda Kabupaten Garut yang dinilainya mampu menjaga situasi tetap kondusif sehingga relasi antarumat beragama berjalan harmonis dan damai.
“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Forkopimda yang terus menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Semoga melalui kegiatan ini kita semakin mempererat tali silaturahmi antarumat beragama,” ujarnya.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin juga menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya pertemuan lintas komunitas yang diprakarsai oleh Agustine Merdekawati. Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan praktik harmoni yang hidup di tengah masyarakat Kabupaten Garut. Syakur mengaku bersyukur bisa hadir dalam acara yang sarat dengan pesan persatuan dan kepedulian sosial tersebut.
“Alhamdulillah, hari ini saya bisa menghadiri acara yang diinisiasi oleh Bu Doktor Agustine Merdekawati. Ini salah satu kegiatan yang sangat baik karena melibatkan berbagai komunitas di tengah masyarakat,” ujarnya.
Syakur melihat perayaan dan momentum keagamaan dijalankan dengan pendekatan inklusif. Warga Muslim turut meramaikan Imlek, sementara pada Ramadan seluruh lapisan masyarakat juga diajak berbagi kebersamaan. Menurutnya, hal ini menunjukkan kebersamaan di atas segala perbedaan.
Tidak hanya menjadi ajang temu silaturahmi, kegiatan tersebut juga disertai aksi sosial berupa penyaluran bantuan kepada masyarakat. Menurut Syakur, kepedulian sosial itulah yang memperkuat ikatan antarwarga. Ia menekankan pentingnya merawat suasana harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. Syakur memastikan kondisi Garut saat ini tetap aman dan damai tanpa konflik antar keyakinan.
“Garut sebesar ini tetap dalam keadaan tenteram dan damai. Tidak ada konflik antar keyakinan agama. Itu yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Syakur berharap hubungan antarumat beragama di Kabupaten Garut terus terjaga dan terbebas dari gesekan yang dapat mengganggu persatuan.
“Semoga kebersamaan ini terus berlanjut. Kita ingin Garut tetap aman, stabil, dan menjadi contoh toleransi bagi daerah lain,” pungkasnya.





