Peningkatan signifikan dalam impor logam mulia dan perhiasan dari Australia tercatat pada Januari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kenaikan ini mencapai 634,3 persen secara tahunan. Nilai impor logam mulia dan perhiasan dari negara tersebut sebesar US$ 507,59 juta.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono BPS, impor nonmigas dari Australia mencapai US$ 1,07 miliar. Dari jumlah tersebut, logam mulia dan perhiasan menjadi komoditas utama yang mendominasi dengan kontribusi sebesar 47,54 persen dari total impor nonmigas. Komoditas ini diberi kode HS71.
Australia berada di antara tiga negara utama yang menyumbang impor nonmigas. Pangsa impor dari Australia mencapai 5,92 persen dari keseluruhan impor pada Januari 2026. Selain logam mulia, komoditas lain yang memberikan kontribusi besar adalah serealia senilai US$ 157,75 juta atau naik 97,14 persen secara tahunan. Serealia memiliki andil sebesar 14,77 persen. Selanjutnya, bahan bakar mineral juga menjadi komoditas penting dengan nilai impor US$ 77,92 juta. Pertumbuhan impor bahan bakar ini mencapai 18,62 persen dengan andil sebesar 7,30 persen.
Dengan kondisi ini, Australia menjadi salah satu dari tiga negara penyumbang defisit nonmigas pada Januari 2026. Defisit nonmigas dengan Australia tercatat sebesar US$ 0,84 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia dengan Australia secara keseluruhan mengalami defisit sebesar US$ 0,96 miliar.
Di sisi lain, Ateng menyoroti bahwa emas perhiasan telah mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut secara bulanan. “Inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 mencapai 8,42 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,19 persen,” ujarnya.
Lonjakan harga emas perhiasan ini sejalan dengan kenaikan harga emas dunia. Ateng menjelaskan bahwa harga emas meningkat dua kali lipat sejak Juli 2024. Harga emas pada saat itu adalah US$ 2.398 per troy ounce, dan naik menjadi US$ 5.019 per troy ounce pada Februari 2026. Kenaikan ini menunjukkan tren positif yang memengaruhi pasar emas perhiasan di Indonesia.
- Berikut beberapa poin penting terkait impor logam mulia dan perhiasan dari Australia:
- Peningkatan impor logam mulia dan perhiasan mencapai 634,3 persen secara tahunan.
- Nilai impor logam mulia dan perhiasan dari Australia sebesar US$ 507,59 juta.
- Logam mulia dan perhiasan mendominasi impor nonmigas dari Australia dengan andil 47,54 persen.
- Australia menjadi salah satu dari tiga negara utama penyumbang impor nonmigas.
- Inflasi emas perhiasan terjadi selama 30 bulan berturut-turut.
- Harga emas dunia meningkat dua kali lipat sejak Juli 2024 hingga Februari 2026.





