Impor Naik 18%, Neraca Perdagangan Januari 2026 Anjlok ke US$ 950 Juta

Sejumlah Mobil Melintasi Jalan Thamrin Yang Banjir Akibat Hujan Deras Yang Turun
Sejumlah Mobil Melintasi Jalan Thamrin Yang Banjir Akibat Hujan Deras Yang Turun

Neraca Perdagangan Indonesia pada Januari 2026 Menurun Signifikan

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mengalami penurunan signifikan, mencapai sebesar US$ 950 juta. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai US$ 3,45 miliar. Penurunan ini terjadi karena kenaikan impor yang sangat tinggi, yaitu sebesar 18,21% secara tahunan, sementara ekspor hanya meningkat sebesar 3,39% secara tahunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa ekspor Indonesia pada Januari 2026 naik menjadi US$ 22,16 miliar, sedangkan impor melonjak menjadi US$ 1,84 miliar. Dalam konferensi pers yang diadakan Senin (2/3), ia menyampaikan bahwa surplus pada Januari 2026 didukung oleh komoditas nonmigas sebesar US$ 3,22 miliar, sementara neraca migas mengalami defisit sebesar US$ 2,27 miliar.

Komoditas yang Membentuk Surplus dan Defisit

Ateng menambahkan bahwa surplus komoditas nonmigas didorong oleh lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, defisit neraca komoditas migas disebabkan oleh minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Dari segi negara mitra dagang, surplus terbesar berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat, yang mencapai US$ 1,55 miliar. India berada di posisi kedua dengan surplus sebesar US$ 1,07 miliar, diikuti oleh Filipina dengan surplus US$ 690 juta.

Surplus ke AS terutama dipengaruhi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya. Sedangkan surplus ke India didorong oleh bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewan nabati.

Defisit Perdagangan dengan Cina dan Negara Lain

Di sisi lain, Indonesia masih mencatatkan defisit perdagangan terbesar dengan Cina sebesar US$ 2,47 miliar, diikuti oleh Australia dengan defisit US$ 0,96 miliar, dan Prancis dengan defisit US$ 0,47 miliar.

Menurut Ateng, Indonesia banyak mengimpor mesin dan perlengkapan elektrik, serta bagiannya, mesin dan perlengkapan mekanis, serta kendaraan dan bagiannya dari Cina. Sementara dari Australia, Indonesia mengimpor logam mulia dan sereal dalam jumlah besar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Neraca Perdagangan

Penurunan neraca perdagangan ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ekspor dan impor. Meskipun ekspor tumbuh secara moderat, impor yang melonjak memberikan tekanan terhadap posisi perdagangan Indonesia. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti permintaan domestik yang meningkat, kenaikan harga komoditas global, atau peningkatan investasi yang membutuhkan barang modal.

Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor barang-barang teknologi dan mesin juga menjadi salah satu penyebab defisit. Meski demikian, surplus dari komoditas nonmigas tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, terutama dari sektor pertanian dan industri.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Tantangan utama yang dihadapi Indonesia adalah memperkuat sektor ekspor agar mampu menyeimbangkan impor. Diperlukan kebijakan yang lebih strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, terutama di sektor industri dan pertanian. Selain itu, perlu dilakukan diversifikasi pasar ekspor agar tidak terlalu bergantung pada satu atau dua negara mitra dagang utama.

Peluang juga terbuka untuk meningkatkan kerja sama dagang dengan negara-negara lain, baik di kawasan Asia maupun dunia. Dengan peningkatan ekspor dan pengendalian impor yang lebih baik, Indonesia dapat menciptakan neraca perdagangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Pos terkait