.CO.ID-JAKARTA.
Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam aktivitas sektor manufaktur pada bulan Februari 2026. Data terbaru yang dikeluarkan oleh S&P Global menunjukkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 53,8 dari 52,6 pada Januari 2026. Angka ini mencerminkan posisi tertinggi dalam hampir dua tahun dan menandai ekspansi yang semakin kuat di sektor tersebut.
Peningkatan PMI ini terutama didorong oleh lonjakan permintaan baru yang memicu kenaikan produksi paling besar sejak awal 2024. Permintaan terus tumbuh selama tujuh bulan berturut-turut, yang dipengaruhi oleh peningkatan jumlah pelanggan serta meningkatnya tingkat kepercayaan bisnis. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan signifikan dalam dinamika pasar.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak hanya berasal dari pasar domestik, tetapi juga dari luar negeri. Pesanan ekspor baru meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan, bahkan mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022. Ini menunjukkan bahwa permintaan internasional mulai pulih dan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja sektor manufaktur.
Menurut analisis dari Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, kondisi permintaan menunjukkan tren positif. Penjualan yang meningkat cukup kuat mendorong kenaikan produksi, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian. Selain itu, kenaikan permintaan tidak hanya terbatas pada pelanggan domestik, karena ekspor juga naik untuk pertama kali dalam enam bulan.
Perusahaan-perusahaan manufaktur mulai meningkatkan kapasitas produksi dan menambah tenaga kerja. Ketenagakerjaan naik enam kali dalam tujuh bulan terakhir, sementara output manufaktur tumbuh pada laju tercepat sejak April 2024. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang bersiap menghadapi permintaan yang diperkirakan tetap kuat.
Selain itu, perusahaan juga meningkatkan aktivitas pembelian input guna mengantisipasi permintaan yang diperkirakan tetap kuat. Pembelian bahan baku pada Februari menjadi yang paling tajam sejak Maret 2024. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memperkuat pasokan bahan baku untuk menjaga kelancaran produksi.
Dari sisi harga, tekanan inflasi biaya input masih ada, terutama akibat kenaikan harga bahan baku. Namun, laju kenaikannya menjadi yang paling rendah dalam enam bulan. Hal ini memungkinkan produsen hanya menaikkan harga jual secara moderat demi menjaga daya saing di pasar.
Usamah Bhatti menilai bahwa perbaikan kondisi manufaktur di awal tahun memberikan prospek positif ke depan. Meskipun tingkat kepercayaan pelaku usaha sedikit menurun dibandingkan Januari dan berada di bawah rata-rata jangka panjang, optimisme terhadap prospek 12 bulan mendatang tetap terlihat.
Harapan akan permintaan yang lebih kuat dan harga yang lebih stabil tetap menjadi faktor pendukung utama bagi sektor manufaktur. Dengan kondisi yang terus membaik, sektor ini diharapkan dapat terus berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.





