JAKARTA – Pelaku usaha di industri petrokimia saat ini sedang mengevaluasi dampak dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah pasca serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait pasokan bahan baku dan fluktuasi harga minyak mentah serta biaya logistik global.
Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono, menyampaikan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah dan nafta, yang menjadi bahan baku utama bagi industri petrokimia. Saat ini, sebagian besar pasokan nafta masih berasal dari kawasan Timur Tengah. Produsen di Indonesia membutuhkan sekitar 3,5 juta ton nafta per tahun, dengan lebih dari separuhnya berasal dari daerah tersebut.
Dengan adanya penutupan jalur laut ini, pasokan minyak mentah dan nafta kini hanya bergantung pada jalur Laut Merah. Untuk mengamankan pasokan, para produsen akan mencari alternatif sumber nafta hingga ke AS. Namun, langkah ini juga membawa risiko kenaikan harga dan biaya logistik yang lebih tinggi.
Fajar menyoroti pentingnya daya beli industri dalam negeri sebagai pengguna produk petrokimia. Ia menegaskan bahwa meski alternatif pasokan dari AS atau kontrak baru bisa tersedia, harga yang diberlakukan akan berubah. “Yang menjadi pertanyaan adalah apakah daya beli industri masih kuat atau tidak,” ujarnya.
Hingga saat ini, Fajar belum bisa memberikan proyeksi pasti mengenai perubahan harga akibat konflik ini. Industri masih melakukan estimasi terkait durasi konflik dan bagaimana hal itu akan memengaruhi biaya produksi serta harga minyak mentah dan nafta. “Semua sedang dilakukan rekalkulasi, bukan sekadar menunggu. Kami mempersiapkan beberapa skenario, mungkin sebanyak 5-6 skenario,” katanya.
Meskipun begitu, Fajar meyakinkan bahwa pelaku industri telah mengamankan bahan baku hingga barang jadi untuk memenuhi kebutuhan hingga Idulfitri pada kuartal I-2026. Namun, ketersediaan bahan baku setelah Idulfitri hingga pertengahan tahun 2026 menjadi perhatian khusus.
Jika konflik berlangsung dalam beberapa bulan, industri perlu menyiapkan strategi khusus untuk menyesuaikan operasional dengan bahan baku yang tersedia. “Lambat laun harus cari strategi bagaimana membangun pasar dengan bahan baku dan barang-barang yang terbatas. Harus ada inovasi-inovasi baru,” ujar Fajar.
Secara operasional, kondisi ini dapat memengaruhi tingkat utilisasi di industri hulu petrokimia. Target realistis yang masih mungkin tercapai adalah menjaga rata-rata utilisasi di level 70%, seperti tahun lalu. Padahal, sebelumnya Inaplas optimistis utilisasi hulu petrokimia tahun ini bisa mencapai 75% hingga 80%.
Di sisi lain, Fajar memperkirakan utilisasi di industri hilir akan memiliki kinerja yang lebih baik. “Di hilir substitusi bahan bakunya banyak. Bisa ambil dari ASEAN, Asia maupun AS. Jadi posisinya lebih kuat daripada hulu dalam hal pengaruh perang ini,” tambahnya.





