Inflasi Diperkirakan Tetap Tinggi 4%-5,5% Hingga Juli 2026

Aa1jdbyc 1
Aa1jdbyc 1



.CO.ID – JAKARTA.

Inflasi diperkirakan masih berada di tingkat yang relatif tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, memproyeksikan bahwa hingga Juni atau Juli 2026, inflasi akan tetap berada dalam kisaran 4% hingga 5,5% year on year (yoy).

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76% yoy. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Januari 2026 yang sebesar 3,55% yoy.

“Inflasi masih berada di rentang 4%-5,5% yoy di Juni-Juli 2026,” ujar Bhima kepada media, Senin (2/3/2026).

Menurut Bhima, faktor utama penyebab inflasi Februari 2026 adalah fluktuasi harga bahan pangan. Inflasi bahan pangan tercatat sebesar 4,01% yoy. Kenaikan harga pangan tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca dan musim Ramadan, tetapi juga dampak dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Adapun, CELIOS melakukan identifikasi di daerah-daerah dengan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terbanyak. Hasilnya menunjukkan adanya kenaikan harga ayam, beras, telur, serta sayuran.

Bhima menilai bahwa korelasi antara program MBG dan kenaikan harga pangan bersifat positif. Hal ini disebabkan oleh persaingan stok di tingkat produsen antara kebutuhan dapur MBG dan pedagang eceran. Kondisi ini dinilai dapat memberi tekanan terhadap daya beli masyarakat, baik di kalangan kelas menengah maupun aspiring middle class.

Aspiring middle class merujuk pada kelompok masyarakat yang telah keluar dari kemiskinan, namun belum memiliki keamanan ekonomi yang penuh.

Selain itu, selama periode Ramadan dan Lebaran, masyarakat cenderung lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dan persiapan mudik meskipun menerima Tunjangan Hari Raya (THR).

“Dampaknya, durasi tinggal di kampung halaman saat mudik misalnya bisa berkurang, atau pilihan moda transportasi bergeser ke yang lebih terjangkau,” tambah Bhima.

Pos terkait