JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi tahunan pada Februari 2026 meningkat signifikan sebesar 4,76% (yoy). Kenaikan ini disebabkan oleh efek basis rendah atau low base effect yang terjadi akibat pengurangan tarif listrik yang diberlakukan pemerintah pada awal 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa indeks harga konsumen (IHK) pada Februari 2026 naik dari 105,48 menjadi 110,50 dibandingkan Februari 2025. Penyebab utama kenaikan inflasi adalah kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan kenaikan sebesar 16,19% (yoy) yang berkontribusi sebesar 2,26%.
Secara spesifik, tarif listrik menjadi komoditas dengan andil terbesar dalam kelompok tersebut. Hal ini dikarenakan pada periode yang sama tahun lalu, pemerintah memberlakukan diskon tarif listrik untuk masyarakat tertentu, sehingga harga listrik pada Januari dan Februari 2025 berada di tingkat yang lebih rendah.
“Ateng menjelaskan bahwa penurunan IHK akibat diskon listrik menyebabkan harga pada Januari dan Februari 2025 berada di bawah tren normalnya. Ketika inflasi tahun ke tahun dihitung pada Februari 2026, basis pembandingnya relatif rendah yaitu Februari 2025. Akibatnya, tingkat inflasi tampak lebih tinggi,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).
Meskipun demikian, Ateng menegaskan bahwa harga listrik telah kembali stabil sesuai dengan fundamentalnya setelah kuartal I/2025, khususnya pada April. Oleh karena itu, diperkirakan inflasi harga listrik tidak akan memberikan efek basis rendah pada April tahun ini.
Efek basis rendah juga terlihat pada inflasi berdasarkan komponen harga yang diatur pemerintah, yang mencatat inflasi sebesar 12,66% (yoy). Komoditas dengan andil terbesar dalam kategori ini adalah tarif listrik, sigaret kretek mesin, dan sigaret kretek tangan.
Inflasi Harga Emas
Selain tarif listrik, inflasi tahunan juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas yang telah berlangsung sejak Februari 2022. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi pada kelompok perawatan jasa pribadi mencapai 16,66% (yoy) dengan andil sebesar 1,12%.
“Inflasi kelompok ini terutama disebabkan oleh inflasi komoditas emas perhiasan yang konsisten mengalami kenaikan sejak Februari 2022,” tambah Ateng.
Inflasi harga emas juga terlihat pada kelompok inflasi inti, yang mencatat kenaikan sebesar 2,63% (yoy) dengan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 1,72%. Beberapa komoditas yang menjadi pendorong inflasi inti Februari 2026 antara lain emas perhiasan, biaya akademis, mobil, sewa rumah, serta nasi dan lauk.
Inflasi Harga Bergejolak
Komponen harga bergejolak juga mengalami kenaikan sebesar 4,64% (yoy) dengan andil sebesar 0,78%. Komoditas dominan yang memicu inflasi dalam kelompok ini antara lain daging ayam ras, beras, bawang merah, dan telur ayam ras.





