Angka Inflasi NTT untuk Februari 2026 Diumumkan oleh BPS
Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data inflasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bulan Februari 2026. Berdasarkan data yang diperoleh, inflasi di wilayah ini mengalami kenaikan sebesar 0,45 persen secara bulanan atau month-to-month (m-to-m) dibandingkan dengan Januari 2026.
Selain itu, secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi NTT pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,42 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi pada Januari 2026 yang mencapai 1,1 persen secara bulanan dan masih tergolong relatif terkendali jika dibandingkan dengan angka nasional.
Perbedaan Tingkat Inflasi Antar Wilayah
Berdasarkan wilayah cakupan pendataan harga, inflasi terjadi di seluruh daerah sampel di NTT. Kota Kupang menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi sebesar 0,71 persen, sementara Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mengalami inflasi terendah yaitu 0,03 persen.
Menurut Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, S.Si., M.Si, perbedaan tingkat inflasi antarwilayah menunjukkan adanya variasi tekanan harga yang dipengaruhi faktor distribusi, pasokan, serta kondisi pasar lokal di masing-masing daerah.
Faktor yang Mempengaruhi Kenaikan Inflasi
Kenaikan inflasi Februari 2026 juga dipengaruhi oleh faktor pembanding pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada awal tahun lalu, terdapat kebijakan diskon tarif listrik yang menekan harga. Ketika kebijakan tersebut tidak lagi berlaku, terjadi penyesuaian harga yang turut mendorong inflasi secara tahunan.
Secara umum, inflasi Februari dipicu oleh kenaikan harga pada 11 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi. Beberapa komoditas yang memberi andil terhadap inflasi antara lain:
- Emas perhiasan dengan kontribusi 0,22 persen
- Cabai rawit dengan kontribusi 0,11 persen
- Ikan kembung dengan kontribusi 0,09 persen
- Kangkung dengan kontribusi 0,07 persen
- Sawi hijau dengan kontribusi 0,06 persen
Penyebab Kenaikan Harga Komoditas
Menurut Matamira, kenaikan harga cabai dan sayuran hijau menunjukkan adanya tekanan pada sektor pangan segar, sedangkan kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh pergerakan harga emas di pasar global.
Ia menegaskan bahwa BPS akan terus melakukan pemantauan harga secara berkala guna memastikan perkembangan inflasi tetap terkendali serta menyediakan data akurat bagi pemerintah dan masyarakat dalam pengambilan kebijakan.





