Inflasi Pangkalpinang Capai 3,00 Persen, Kenaikan Tarif Listrik Jadi Penyebab Utama

Tips Pemakaian Listrik 1
Tips Pemakaian Listrik 1

Inflasi Tahunan Kota Pangkalpinang Mencapai 3,00 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang melaporkan bahwa inflasi tahunan (year on year) pada Februari 2026 mencapai 3,00 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga secara keseluruhan di berbagai kelompok pengeluaran masyarakat. Meski demikian, secara bulanan (month to month), kota ini justru mengalami deflasi sebesar 0,44 persen.

Kenaikan harga terjadi karena peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,06 pada Februari 2025 menjadi 107,18 pada Februari 2026. Laporan ini disampaikan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Indeks Harga Konsumen Kota Pangkalpinang, yang diadakan di ruang pertemuan BPS Kota Pangkalpinang pada Senin (2/3/2026).

Penyebab Inflasi

Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Savitri, menjelaskan bahwa inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan tertinggi sebesar 16,64 persen. Disusul oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan kenaikan 3,12 persen.

Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 2,12 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,29 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,18 persen. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 1,08 persen, dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,29 persen. Hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami inflasi sangat rendah, yaitu 0,02 persen.

Dewi menyatakan bahwa kenaikan harga terjadi di sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama pada komoditas energi dan pangan.

Deflasi pada Beberapa Kelompok

Namun, tiga kelompok pengeluaran tercatat mengalami deflasi tahunan. Kelompok pendidikan mengalami deflasi sebesar 10,53 persen, disusul oleh kelompok transportasi sebesar 0,81 persen, dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,27 persen.

Secara bulanan, Pangkalpinang mengalami deflasi sebesar 0,44 persen pada Februari 2026. Dalam rangka tahun kalender (year to date/y-to-d), terjadi deflasi sebesar 0,33 persen dibandingkan Desember 2025. Deflasi bulanan tersebut menunjukkan penurunan harga sejumlah komoditas, terutama pada komoditas pangan segar dan energi.

Kontribusi Kelompok Pengeluaran

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi terbesar secara tahunan, yakni 2,26 persen. Disusul oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,01 persen. Kelompok lainnya yang turut menyumbang inflasi antara lain perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,14 persen), penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,09 persen), kesehatan (0,05 persen), serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan serta rekreasi masing-masing 0,02 persen.

Sebaliknya, kelompok pendidikan memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,47 persen, diikuti transportasi sebesar 0,11 persen dan perlengkapan rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Komoditas yang Mendorong Inflasi

Beberapa komoditas dominan mendorong inflasi tahunan. Di antaranya adalah tarif listrik, daging ayam ras, emas perhiasan, beras, cabai rawit, bawang merah, sewa rumah, serta susu bubuk untuk balita. Komoditas perikanan seperti ikan selar, ikan tenggiri, ikan dencis, ikan manyung, ikan singkur dan cumi-cumi juga memberikan kontribusi terhadap inflasi. Selain itu, sigaret putih mesin (SPM), sigaret kretek mesin (SKM), sate, jus buah siap saji, hingga mobil turut menyumbang kenaikan harga.

Komoditas yang Menahan Inflasi

Adapun komoditas yang menahan inflasi atau menyumbang deflasi tahunan antara lain tarif sekolah menengah atas, angkutan udara, bensin, cabai merah, udang basah, popok bayi sekali pakai, serta sejumlah komoditas hortikultura seperti bayam, wortel, kangkung, kentang dan bawang putih.

Deflasi Bulanan

Secara bulanan, komoditas yang dominan menyumbang deflasi antara lain ikan tenggiri, bayam, ikan singkur, kangkung, cumi-cumi, bensin dan udang basah. Sementara komoditas yang mendorong inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, angkutan udara, sepeda motor, serta susu bubuk untuk balita.

Kondisi Inflasi Saat Ini

Dewi menyatakan bahwa dengan inflasi tahunan berada di angka 3,00 persen, kondisi ini masih mencerminkan tekanan harga yang relatif terkendali. Namun, lonjakan pada kelompok perumahan dan energi menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya langsung terhadap daya beli masyarakat.


Pos terkait