Tingkat Inflasi di Sumsel Meningkat pada Februari 2026
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi di Sumatra Selatan (Sumsel) pada bulan Februari 2026 mencapai 4,36% secara tahunan (year-on-year). Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 3,33% yoy. Selain itu, angka ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, yang hanya mencatat inflasi sebesar 0,49% yoy.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi oleh penghapusan subsidi atau diskon tarif listrik yang sempat diberikan pada tahun 2025. Ia menilai bahwa kondisi ini disebabkan oleh efek dasar rendah (low base effect) dari diskon tarif listrik pada tahun sebelumnya. Menurutnya, situasi ini perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada bulan Maret dan April, karena tekanan serupa berpotensi kembali terjadi.
Tiga Kelompok Pengeluaran dengan Kontribusi Terbesar
Dalam perhitungan inflasi, terdapat 11 kelompok pengeluaran yang dianalisis. Dari keseluruhan kelompok tersebut, tiga di antaranya memberikan andil terbesar terhadap inflasi di Sumsel.
- Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi sebesar 22,93%, dengan kontribusi sebesar 1,83%.
- Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 14,53% dan kontribusi sebesar 1,80%.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,97% dengan kontribusi sebesar 0,62%.
Ketiga kelompok tersebut bersama-sama menyumbang sekitar 4,25% terhadap total inflasi sebesar 4,36% yoy di Sumsel.
Komoditas Penyumbang Utama Inflasi
Secara komoditas, beberapa item utama menjadi penyebab meningkatnya inflasi di Sumsel pada Februari 2026. Di antaranya adalah emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, beras, dan tomat.
Selain itu, data wilayah menunjukkan bahwa Kabupaten Muara Enim mengalami inflasi tertinggi pada bulan Februari 2026 sebesar 4,69%. Sementara itu, wilayah dengan tingkat inflasi terendah adalah Ogan Komering Ilir, dengan angka sebesar 4,09%.
Perkembangan Inflasi di Masa Mendatang
Wahyu menegaskan bahwa kenaikan inflasi yang terjadi pada Februari 2026 perlu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah. Ia menyarankan agar langkah-langkah antisipatif dilakukan untuk mengurangi dampak tekanan inflasi yang bisa kembali muncul pada bulan-bulan berikutnya.
Dengan adanya peningkatan inflasi yang signifikan, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan harga barang kebutuhan pokok serta memastikan ketersediaan pasokan yang cukup. Hal ini akan membantu menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Sumsel.





