Inggris Setujui Penggunaan Pangkalan Militer AS untuk Hancurkan Depot Rudal Iran

115530126 Gettyimages 1267349871 2
115530126 Gettyimages 1267349871 2

Eskalasi Konflik Timur Tengah: Perang dengan Iran yang Dikhawatirkan Berlangsung Hingga Empat Minggu

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa kemungkinan perang melawan Iran dapat berlangsung hingga empat minggu jika ketegangan terus berlanjut. Pernyataan ini muncul setelah Iran mengklaim melakukan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah pangkalan militer yang disebut terkait dengan AS dan Israel.

Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas serangan rudal gabungan antara AS dan Israel yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Washington kemudian meminta Inggris untuk melakukan serangan terbatas yang bersifat defensif. Inggris memberikan izin kepada AS menggunakan pangkalan militer di Kepulauan Chagos untuk melancarkan serangan terhadap depot rudal Iran.

Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada Minggu (1/3/2026) malam waktu setempat. Ia menjelaskan bahwa pemerintah Inggris menyetujui permintaan tersebut setelah mempertimbangkan aspek keamanan dan hukum. “Satu-satunya cara untuk menghentikan ancaman adalah menghancurkan rudal di sumbernya di depot penyimpanan atau peluncur yang digunakan untuk menembakkannya,” ujar Starmer dalam video yang diunggah di platform X.

Ia menambahkan bahwa AS meminta izin menggunakan pangkalan Inggris untuk tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas. “Kami telah mengambil keputusan untuk menerima permintaan ini,” katanya. Meski memberikan izin penggunaan pangkalan militer di Kepulauan Chagos, pemerintah Inggris menegaskan tidak akan terlibat lebih jauh dalam konflik tersebut.

London juga merilis ringkasan nasihat hukum yang menegaskan bahwa keputusan ini tidak menandakan keterlibatan Inggris secara lebih luas dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran. Dalam pernyataan terpisah, Starmer menekankan bahwa Inggris tidak akan bergabung dalam serangan ofensif. “Kami tidak bergabung dalam serangan ini tetapi akan melanjutkan tindakan defensif kami. Kita semua mengingat kesalahan Irak, dan kita telah belajar dari pelajaran tersebut,” ujarnya.

Sikap Bersama E3

Sebelumnya, Jerman, Perancis, dan Inggris—yang dikenal sebagai kelompok E3—membuka kemungkinan untuk “memungkinkan” aksi militer terhadap Iran bersama AS dan sekutu di kawasan. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin tiga ekonomi terbesar Eropa itu menyatakan, “Kami akan mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di kawasan, berpotensi dengan memungkinkan tindakan defensif yang perlu dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran menembakkan rudal dan drone dari sumbernya.”

Namun, pernyataan tersebut belum menyatakan bahwa ketiga negara akan ikut serta dalam serangan AS dan Israel terhadap Teheran. E3 juga menyerukan Iran agar segera menghentikan serangan terhadap negara-negara sekutu Barat dan pangkalan militer di Timur Tengah. Mereka menyatakan bahwa para pemimpin E3 “terkejut oleh serangan rudal yang tanpa pandang bulu dan tidak proporsional yang diluncurkan Iran terhadap negara-negara di kawasan, termasuk yang tidak terlibat dalam operasi militer awal AS dan Israel.”

Kritik terhadap Kinerja Eropa

Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz menolak mengkritik Presiden AS Donald Trump atas serangan tersebut. Ia menilai, Eropa masih membutuhkan dukungan Washington dalam menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina. Sementara itu, Senator Partai Republik AS Lindsey Graham sebelumnya mengkritik Inggris, Perancis, dan Jerman karena dinilai kurang vokal mendukung serangan terhadap Iran. “Secara kolektif kalianlah yang salah karena menolak membantu rakyat Iran,” tulisnya di X.

Potensi Eskalasi Konflik

Situasi di kawasan Timur Tengah terus memanas, dengan sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi lanjutan. Seiring dengan peningkatan ketegangan, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi ini.

Pos terkait