Penjelasan Resmi GoTo Mengenai Investasi Google dan Struktur Perusahaan
GoTo, yang sebelumnya dikenal sebagai Gojek, telah memberikan penjelasan resmi mengenai beberapa aspek penting terkait perusahaan. Penjelasan ini mencakup sejarah investasi dari Google, tata kelola perusahaan, serta informasi mengenai kepemilikan saham pendiri Gojek, Nadiem Makarim. Penjelasan ini disampaikan dalam rangka menjawab berbagai isu yang muncul belakangan ini.
Investasi Google
Sejak didirikan pada tahun 2010, Gojek mengalami pertumbuhan bisnis yang pesat dan menarik minat investor asing. Salah satu investor utama adalah Google, yang pertama kali melakukan investasi di perusahaan pada tahun 2017. Sejak saat itu, Google terus berpartisipasi dalam beberapa putaran pendanaan bersama investor global lainnya.
Menurut manajemen GoTo, sebagian besar investasi Google dilakukan sebelum tahun 2019, ketika Nadiem Makarim belum menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Manajemen GoTo menegaskan bahwa investasi Google tidak pernah dilakukan secara eksklusif atau terpisah, tetapi selalu menjadi bagian dari putaran pendanaan bersama dengan investor lainnya.
“Google tidak pernah menjadi pemegang saham mayoritas maupun pemegang saham pengendali perseroan,” ujar manajemen GoTo. “Partisipasi Google dalam setiap putaran pendanaan dilakukan secara profesional dan transparan, tanpa perlakuan khusus serta sepenuhnya mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku.”
Selain itu, setiap investor, termasuk Google, harus menyetujui dan menandatangani Perjanjian Pengambilbagian Saham (Shares Subscription Agreement) sebelum melakukan investasi. Hal ini sesuai dengan prosedur standar operasional (SOP) yang biasa dilakukan oleh perusahaan yang sedang melakukan penggalangan dana. Dana yang diperoleh dari investor digunakan semata-mata untuk pertumbuhan bisnis dan kebutuhan operasional.
Informasi Soal Share Buyback

Manajemen GoTo juga menjelaskan bahwa perusahaan tidak pernah melakukan pembelian kembali saham sendiri (share buyback) dari Google. Namun, terdapat dua transaksi yang melibatkan pembelian saham dari Google.
Pertama, pada Mei 2021, ketika Gojek dan Tokopedia bergabung menjadi GoTo, perseroan membeli saham Tokopedia dari Google yang merupakan salah satu pemegang saham Tokopedia. Proses serupa juga dilakukan antara perseroan dengan pemegang saham Tokopedia lainnya.
Kedua, pada Oktober 2021, perseroan membeli saham entitas teknologi keuangan milik sendiri, PT Dompet Karya Anak Bangsa (DKAB), dari beberapa investor, termasuk Google. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi yang perlu dilakukan oleh perseroan menjelang Penawaran Umum Perdana Saham (IPO).
“Dalam kedua transaksi tersebut, para investor memutuskan untuk menginvestasikan kembali dana yang diperoleh dengan membeli saham baru GoTo,” jelas manajemen GoTo.
Selain itu, hubungan antara GoTo dan Google telah terjalin sebelum adanya investasi karena GoTo menjadi pengguna layanan Google sejak tahun 2015 melalui pembelian layanan infrastruktur komputasi awan (cloud), penggunaan layanan peta (maps), dan periklanan digital. Google adalah salah satu dari banyak penyedia solusi teknologi yang menyediakan layanan bagi GoTo, suatu praktik umum yang dilakukan perusahaan teknologi di Indonesia maupun di seluruh dunia.
Perubahan Struktur GoTo

Lebih lanjut, manajemen GoTo menjelaskan bahwa PT Gojek Indonesia (PT GI) didirikan pada tahun 2010 sebagai entitas operasional awal Gojek, berbentuk Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Saat itu, operasional PT GI sebagian besar didanai melalui penggalangan utang karena belum menghasilkan laba.
Pada tahun 2015, bisnis tersebut berkembang melampaui model operasi call center awal menjadi bisnis teknologi melalui peluncuran aplikasi Gojek. Oleh karena itu, PT AKAB dibentuk sebagai entitas Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) di tahun yang sama. PT AKAB menaungi aplikasi dan teknologi, sedangkan PT GI terus fokus dalam kegiatan yang mendukung operasional untuk mitra pengemudi.
Dalam rangka persiapan IPO pada 2021, PT AKAB perlu memperoleh kendali penuh atas PT GI yang masih menaungi beberapa operasional Gojek. Oleh karena itu, PT AKAB melakukan pengambil bagian atas saham baru yang diterbitkan oleh PT GI, bukan dengan membeli saham yang sudah dimiliki oleh pemegang saham yang ada.
Saat itu, PT GI telah mengakumulasi jumlah utang sebesar Rp809 miliar kepada PT AKAB guna membiayai operasionalnya. PT GI kemudian menggunakan dana hasil penerbitan saham baru untuk melunasi utang tersebut sepenuhnya.
“Tidak ada pemegang saham, termasuk Nadiem, yang menerima hasil dari transaksi tersebut. Seluruh transaksi terjadi hanya antara PT AKAB dan PT GI, dan dilakukan secara profesional serta transparan,” sebut manajemen GoTo.
Pada November 2021, nama PT AKAB diubah menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia. Setelah IPO, status perseroan berubah dari PMA menjadi PMDN. Hal ini sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku.





