Para Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rina Wahyuningsih, sedang melakukan penelitianbioplastikberbasis pati singkong yang diyakini lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bahan ini mulai mendapat perhatian di Indonesia karena melimpah di alam dan lebih efisien dari segi biaya.
“Bioplastik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme, sehingga tidak meninggalkan racun berbahaya di lingkungan karena bahan-bahannya alami,” kata Rina melalui keterangan tertulis, Selasa, 24 Februari 2026.
Menurut Rina, bioplastik yang terbuat dari polimer alami seperti pati, selulosa, kitosan serta protein dan lemak berasal dari bahan yang dapat diperbarui. Penggunaan plastik dari bahan alami ini disarankan dibanding menggunakan plastik berbasis minyak bumi yang sulit terurai secara alami, sehingga menyebabkan penumpukan limbah.
Bioplastik, katanya, dapat terurai di tanah hingga 60-90 persen dalam waktu enam hari, berbeda dengan plastik konvensional yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai. Namun, bioplastik menunjukkan sifat mekanik dan ketahanan air yang buruk. Stabilitasnya terganggu oleh sifat hidrofilik pati. “Karena itu diperlukan penambahan”plastisizer“seperti gelatin,” kata Rina.
Gelatin berasal dari kolagen terhidrolisis yang ditemukan dalam jaringan ikat hewan. Sifat hidrokoloid membuat gelatin bisa dibentuk menjadi lembaran tipis dan elastis, menjadikannya bahan yang ideal untuk memproduksi bioplastik. Di Indonesia, membran cangkang telur ayam kampung (INCES) masih banyak tersedia dan belum dieksplorasi sebagai sumber gelatin untuk produksi bioplastik.
“INCES mengandung 31 persen kolagen, sangat berpotensi sebagai sumber gelatin,” katanya.
Penambahan gelatin yang berasal dari membran cangkang telur ayam kampung Indonesia menjadi salah satu temuan dari penelitian ini dan metode baru untuk meningkatkan sifat fisik bioplastik pati singkong. Bioplastik yang diperkaya dengan 2 persen dan 4 persen gelatin ini menunjukkan kekuatan patah rendah, kelarutan air tinggi, dan dapat terdegradasi di tanah dalam waktu lima hari.
Sebaiknya dilakukan kajian lanjutan terhadap penambahan zat lain seperti kitosan, agar, dan selulosa untuk meningkatkan sifat mekanik gelatin. Bioplastik yang memiliki sifat mekanik teruji, namun memiliki kemampuan degradasi tinggi diharapkan mampu mendukung teknologikemasan makanan yang berkelanjutan,” kata Rina.





