Internet Iran Terganggu 96 Persen Saat Serangan AS-Israel Meningkat

116565963 Cd225f20 7931 4070 B43c 346c55651d82.jpg 1
116565963 Cd225f20 7931 4070 B43c 346c55651d82.jpg 1

Kegagalan Konektivitas Digital di Iran

Pada hari Sabtu (28/2/2026), Iran mengalami gangguan besar dalam koneksi internet nasional. Lebih dari 96 persen jaringan internet negara tersebut terputus, menandai penurunan yang sangat signifikan dalam akses digital. Pemadaman ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Israel.

Data dari NetBlocks, sebuah lembaga pengawas internet global, menunjukkan bahwa sejak pukul 07.00 UTC, tingkat akses internet di Iran turun drastis hingga hanya tersisa sekitar 4 persen dari kondisi normal. Grafik pemantauan menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Iran kehilangan akses digital secara bersamaan, yang menjadi indikasi kuat adanya pemutusan jaringan skala nasional.

NetBlocks menyatakan bahwa pola gangguan ini tidak hanya sekadar masalah teknis biasa, tetapi lebih mirip dengan pemadaman internet yang terkoordinasi. Dampaknya mencakup komunikasi publik, aktivitas ekonomi digital, serta aliran informasi dari dalam negeri ke dunia internasional.

Warga Iran kesulitan mengakses layanan komunikasi daring, media sosial, maupun platform informasi global. Laporan serupa juga dilaporkan oleh Cloudflare Radar, layanan analisis lalu lintas internet global, yang mencatat penurunan data hingga mendekati nol di berbagai provinsi utama Iran.

Dampak pemadaman tercatat merata, termasuk di pusat pemerintahan Tehran serta wilayah padat penduduk dan industri seperti Fars, Isfahan, Alborz, dan Razavi Khorasan. Menurut laporan Forbes pada Senin (2/3/2026), skala gangguan ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern Iran, baik dari segi cakupan geografis maupun tingkat penurunan konektivitas.

Spekulasi muncul bahwa pembatasan internet mungkin dilakukan sebagai langkah pengendalian informasi di tengah situasi keamanan yang memburuk. Pemadaman internet sering digunakan sebagai instrumen strategis dalam situasi konflik atau krisis politik, terutama untuk membatasi penyebaran informasi real-time, koordinasi massa, serta potensi disinformasi.

Namun, langkah ini juga memiliki konsekuensi besar terhadap aktivitas ekonomi, layanan publik, dan komunikasi warga sipil. Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab pasti pemadaman tersebut. Tidak jelas apakah gangguan dipicu oleh kerusakan infrastruktur akibat serangan militer, serangan siber, atau kebijakan pembatasan yang disengaja oleh otoritas negara.

Para analis keamanan siber menilai bahwa pemutusan konektivitas nasional dalam skala besar biasanya melibatkan intervensi langsung pada gerbang jaringan utama (national gateways) atau operator telekomunikasi inti. Hal ini memungkinkan lalu lintas internet internasional dihentikan secara cepat dan menyeluruh.

Situasi ini semakin mempertegas dimensi baru konflik modern, di mana ruang digital menjadi medan strategis yang tak kalah penting dibandingkan operasi militer konvensional. Selain serangan fisik, kontrol terhadap informasi dan komunikasi kini menjadi bagian integral dari strategi pertahanan dan keamanan nasional.

Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, pemadaman internet di Iran juga menimbulkan kekhawatiran global mengenai transparansi informasi dan keselamatan warga sipil yang kini berada dalam kondisi minim akses komunikasi dengan dunia luar. Dampak dari pemadaman ini tidak hanya terasa di dalam negeri, tetapi juga berdampak luas terhadap hubungan internasional dan stabilitas regional.

Pos terkait