Investasi Asing Terancam Keluar, IHSG Rentan Volatilitas Akibat Konflik Timur Tengah

Aa1u58bk
Aa1u58bk



Peningkatan ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel dapat memicu peningkatan tekanan terhadap pasar saham global, termasuk di Indonesia. Dampak dari sentimen risk-off membuat investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, sehingga berpotensi menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek.

Menurut pengamat pasar modal Irwan Ariston, lonjakan risiko geopolitik biasanya diikuti oleh penurunan aliran dana asing di pasar-pasar negara berkembang. Struktur pasar saham Indonesia yang masih dipengaruhi oleh investor global menyebabkan tekanan jual cepat terlihat pada indeks.

“Ketika risiko global meningkat, investor asing biasanya mengurangi eksposur mereka di pasar-pasar negara berkembang. Karena dana asing dominan di saham-saham besar, tekanan jual langsung terasa pada IHSG,” ujar Irwan.

Ia menambahkan bahwa jika sentimen risk-off berkembang menjadi fase panik, koreksi pasar biasanya terjadi cepat namun tidak lama. Setelah valuasi kembali menarik dan fundamental domestik stabil, arus dana asing berpeluang kembali masuk secara bertahap.

Dari sisi sektor, kondisi geopolitik juga mendorong rotasi sektoral di pasar saham. Dana investor cenderung keluar dari saham growth dan beralih ke sektor berbasis komoditas.

“Sektor yang rentan biasanya perbankan besar, konsumer siklikal, dan properti. Sebaliknya, sektor energi serta saham komoditas dan emas justru berpotensi diuntungkan,” jelasnya.

Irwan memperkirakan IHSG akan bergerak volatil dengan bias melemah selama ketidakpastian global masih tinggi. Area support teknikal menjadi level krusial untuk dicermati pelaku pasar. Jika ditembus disertai net sell asing yang konsisten, koreksi berpotensi berlanjut.

Rekomendasi Saham

Selain itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai eskalasi konflik mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas, sehingga meningkatkan tekanan volatilitas di pasar domestik.

“Dalam jangka pendek, arus dana asing berpotensi tertekan dan membuat IHSG lebih sensitif terhadap dinamika global, meski fundamental makro Indonesia relatif stabil,” paparnya.

Abida memperkirakan aksi net sell asing dapat memicu koreksi indeks lebih dari 2,5% dalam waktu singkat apabila disertai lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS. Tekanan biasanya paling terasa pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama indeks.

Menurut Abida, rotasi sektoral berpeluang terjadi, di mana saham berbasis komoditas dan energi menjadi lebih resilien di tengah volatilitas tinggi.

Dalam kondisi pasar saat ini, strategi defensif dan selektif dinilai lebih relevan. Investor dapat mencermati saham komoditas logam seperti:

  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
  • PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BUMI)

yang berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga emas dan mineral.

Selain itu, saham energi seperti:

  • PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
  • PT Elnusa Tbk (ELSA)
  • PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)

juga dinilai menarik dicermati seiring potensi kenaikan harga minyak global.

Abida merekomendasikan saham ANTM dengan target Rp 4.800, ARCI Rp 2.500, MEDC Rp 2.000, dan BRMS Rp 1.200.

Ia menekankan, di tengah dinamika arus dana asing, kunci utama bagi investor adalah menjaga manajemen risiko serta melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat saat terjadi koreksi berlebihan.

Pos terkait