Investor incar dividen tinggi, analis beri saran ini

Aa1w2rgf
Aa1w2rgf



Pembagian dividen final di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menjadi perhatian investor. Secara historis, emiten biasanya mulai menyalurkan dividen final antara bulan Maret hingga Juni. Dividen final hanya dibagikan satu kali setahun setelah laporan keuangan tahunan disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Periode pembagian dividen final menjadi momen penting bagi investor untuk meraih keuntungan baik dari pembagian dividen maupun kenaikan harga saham. Biasanya, harga saham emiten cenderung meningkat menjelang cum date dividen, sehingga peluang capital gain dan dividen yield bisa diraih bersamaan.

Indikasi positif sudah mulai terlihat. Tercermin dari pergerakan indeks IDX High Dividend20 yang mencatat kenaikan sepanjang tahun berjalan. Pada Jumat pekan lalu (20/2/2026), indeks yang berisi 20 saham pembagi dividen ini berada di level 522,03 atau menguat 2,38% secara year to date (YtD).

Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, konstituen indeks High Dividend20 masih bisa menjadi acuan bagi investor dalam memilih emiten dengan dividen menarik. Namun, ia menekankan bahwa investor jangan mengandalkan indeks ini tanpa analisa lanjutan.

Wafi menilai investor belum terlambat untuk masuk ke saham pembagi dividen karena mayoritas distribusi dividen terjadi pada akhir Maret hingga Mei. Masih ada ruang untuk mengamankan capital gain sekaligus dividen yield.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan bahwa investor bisa memprioritaskan saham emiten dengan dividend yield di atas 5%. Emitter dari sektor perbankan dan komoditas sering menawarkan rasio dividen seperti itu.

Nafan menyoroti saham bank Himbara sebagai pilihan menarik, misalnya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang diperkirakan akan membagikan dividen dari laporan keuangan 2025 dengan dividend payout ratio sekitar 78%, sama seperti tahun sebelumnya.

Valuasi BMRI juga masih tergolong murah dengan price earning ratio (PER) 8,50x. Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp 56,3 triliun pada 2025, naik 0,93% secara tahunan. Jika dividend payout ratio tetap 78%, total dividen berpotensi mencapai Rp 43,9 triliun atau sekitar Rp 472 per saham. Berdasarkan harga saham BMRI pada Jumat (20/2), dividend yield-nya sekitar 9,2%.



Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai harga saham yang relatif rendah membuat dividen menawarkan return menarik. Ia menekankan bahwa dividend yield emiten bisa lebih tinggi dibanding bunga deposito atau kupon obligasi pemerintah. Saat ini, saham emiten pembagi dividen relatif murah dan menarik untuk dicermati.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menambahkan bahwa saham emiten perbankan masih prospektif di 2026 karena kinerjanya bergantung pada pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan tren suku bunga.

Menurut Miftahul, belum terlambat untuk masuk ke pasar saham, asalkan valuasi masih masuk akal dan strategi investasi dilakukan bertahap dengan fokus pada fundamental yang kuat.

Pos terkait