Investor ritel mulai beli SUN FR, ini keunggulan dibanding ORI

Aa1justd 1
Aa1justd 1



Minat investor individu terhadap Surat Berharga Negara (SBN) semakin meningkat. Tidak hanya berfokus pada SBN ritel seperti Obligasi Ritel (ORI), kini para investor mulai beralih membeli Surat Utang Negara (SUN) seri fixed rate (FR) di pasar sekunder.

Menurut Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, sekitar 40% investor individu telah membeli SUN FR. Hal ini didorong oleh kemudahan akses pembelian secara ritel melalui Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan nominal mulai dari Rp 1 juta.

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI), Banjaran Surya Indrastomo, menilai bahwa ketertarikan investor ritel terhadap SUN FR disebabkan oleh fleksibilitas harga dan kesempatan masuk yang lebih luas dibanding instrumen ritel lainnya seperti ORI.

Menurut dia, SUN FR di pasar sekunder memberi peluang bagi investor untuk mengunci yield yang lebih menarik saat kondisi imbal hasil pasar masih relatif tinggi.

“Saat yield pasar masih tinggi, investor bisa masuk di level yang lebih menarik dibanding periode normal, terutama pada seri-seri FR tertentu,” ujarnya kepada islamipedia.id, Jumat (20/2/2026).

Selain itu, Banjaran menyebutkan bahwa potensi capital gain menjadi daya tarik utama dari SUN FR. Ia menjelaskan, jika ke depan yield mulai turun, misalnya karena ekspektasi pelonggaran suku bunga atau sentimen global membaik, maka harga obligasi bisa naik.

Dengan demikian, investor yang aktif di pasar sekunder memiliki peluang meraih keuntungan dari selisih harga.

Dari sisi likuiditas, SUN FR dinilai lebih aktif karena pelaku pasarnya mencakup investor ritel maupun institusi. Kondisi ini membuka peluang jual-beli yang lebih fleksibel ketika target harga tercapai.

Banjaran menambahkan bahwa pilihan seri dan tenor FR yang sangat beragam, mulai dari jangka pendek hingga panjang, membuat investor dapat menyesuaikan strategi durasi sesuai kebutuhan.

Sebaliknya, ORI dinilai lebih cocok bagi investor yang mengutamakan kepastian kupon dan kenyamanan. Produk ritel tersebut umumnya lebih sederhana dan cenderung dipegang hingga jatuh tempo.

“Jadi, perbedaannya bukan hanya soal kupon, tetapi juga soal kesempatan masuk saat yield tinggi, potensi capital gain ketika yield turun, serta fleksibilitas likuiditas dan pilihan tenor,” jelas Banjaran.

Saat ini, ia melihat masih ada peluang bagi investor untuk masuk ke FR karena posisi yield yang relatif tinggi membuat harga obligasi berada di level yang menarik.

Strategi Memilih Instrumen

Banjaran menekankan bahwa strategi investasi di SBN sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, horizon waktu, dan toleransi risiko masing-masing investor.

Investor konservatif yang mengutamakan stabilitas disarankan memilih tenor lebih pendek atau mengombinasikan ORI dan SBN ritel untuk menjaga arus kas.

Sementara itu, investor yang lebih oportunistik dapat memanfaatkan SUN FR di pasar sekunder untuk menangkap peluang capital gain ketika yield bergerak turun.

Secara umum, ia menyarankan pendekatan diversifikasi portofolio agar risiko lebih terukur.

“Portofolio sebaiknya dibagi antara instrumen pendapatan tetap seperti SBN, aset pertumbuhan seperti saham atau reksa dana, serta aset lindung nilai seperti emas agar imbal hasil lebih seimbang,” pungkasnya.

Pos terkait