Iran akhirnya mengonfirmasi kematian Khamenei karena serangan AS dan Israel, apa tindakan selanjutnya?

132101519 Capture 38
132101519 Capture 38

Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Proses Suksesi di Iran

Setelah serangan udara besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, akhirnya Iran mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini terjadi setelah media utama Iran sehari sebelumnya membantah klaim AS dan Israel bahwa Khamenei tewas dalam serangan tersebut. Mereka menyatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran masih dalam kondisi sehat dan menjalankan tugasnya.

Kematian Khamenei menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana proses suksesi kepemimpinan Iran akan berjalan, terutama dalam menghadapi ancaman serangan lanjutan dari AS dan Israel. Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bahwa serangan udara akan terus berlanjut. Khamenei, yang telah memegang jabatan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, dinyatakan tewas akibat serangan udara besar-besaran yang dilakukan AS dan Israel terhadap sejumlah sasaran penting, termasuk Beit-e Rahbari di Teheran, yang selama ini menjadi tempat tinggal pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Berkabung Selama 40 Hari

Sebelumnya, Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel telah mengklaim bahwa dalam serangan udara pada hari Sabtu lalu, Khamenei dan sejumlah petinggi senior Iran tewas. Klaim ini diperkuat oleh hasil foto satelit Israel yang menunjukkan kerusakan total di Komplek Beit-e Rahbari. Konfirmasi atas kematian Khamenei dilaporkan oleh media pemerintah Iran, yang menyatakan bahwa Ayatollah Ali Khamenei meninggal di kantornya dalam serangan Israel-AS terhadap Iran.

Selain itu, kantor berita Reuters melaporkan bahwa jenazah Khamenei telah ditemukan, meskipun identitasnya belum sepenuhnya diverifikasi. Pemerintah Iran kemudian menyatakan masa berkabung selama 40 hari atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran.

Iran Segera Menentukan Pemimpin Baru

Ali Khamenei telah menjadi pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan pendiri Iran pasca-Shah, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memimpin revolusi Iran tahun 1979. Setelah kematian Khamenei dan para komandan tinggi Iran di Teheran pada awal perang hari Sabtu, otoritas tinggi Republik Islam yang tersisa menekankan bahwa rezim teokratis memiliki jalan yang jelas ke depan berdasarkan mekanisme internalnya sendiri.

Menurut undang-undang yang diberlakukan setelah Revolusi Islam tahun 1979 di Iran, sebuah badan ulama yang disebut Majelis Pakar bertugas memilih pemimpin tertinggi berikutnya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa dewan kepemimpinan baru telah memulai pekerjaannya setelah kematian Khamenei. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa proses tersebut akan selesai dalam beberapa hari. “Sampai hal itu bisa terjadi, dewan beranggotakan tiga orang akan memegang pemerintahan sementara,” tuturnya.

Sebagai anggota dewan, kepala kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei dan Presiden Pezeshkian telah berjanji untuk menjaga keberlanjutan. Dalam pidato video pertamanya pada hari Minggu 1 Maret 2026 atau sehari setelah serangan udara yang menewaskan Khamenei, Pezeshkian menyerukan kepada pendukung pemerintah untuk berkumpul di masjid-masjid dan jalan-jalan utama kota meskipun terjadi perang.

Serangan Balasan Iran

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu malam, menewaskan lebih dari 200 orang menurut media Iran. Beberapa media pemerintah Iran mengkonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei. Kabinet Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur nasional selama seminggu untuk menghormati pemimpin tertinggi tersebut.

Akibat serangan yang menewaskan Khamenei, Iran melakukan serangan balasan dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone dengan menyasar aset-aset militer AS dan Israel, termasuk di sejumlah negara-negara Teluk Arab.

Pos terkait