Iran Aktifkan Pertahanan Gerilya ‘Mosaic Terdesentralisasi’, Apa Itu?

Aa1vsgnz 2
Aa1vsgnz 2



Pertahanan Iran mengalami perubahan besar dalam beberapa hari terakhir. Dengan strategi yang dikenal sebagai “Decentralized Mosaic Defence”, Iran membagi kekuatan militer mereka menjadi 31 unit operasional otonom, masing-masing bertindak secara mandiri tanpa perlu persetujuan pusat di Teheran. Langkah ini dilakukan setelah serangan AS dan Israel yang menargetkan infrastruktur utama dan jalur komando pusat.

Perubahan Struktur Militer

Strategi baru ini telah merestrukturisasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi unit-unit yang lebih fleksibel. Setiap unit memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan taktis, termasuk meluncurkan rudal, drone, atau operasi gerilya. Hal ini memberikan kebebasan kepada para komandan di tingkat provinsi untuk bertindak sesuai dengan situasi yang mereka hadapi.

Menurut pejabat Iran, langkah ini diambil untuk menghindari keruntuhan sistemik jika terjadi gangguan komunikasi atau ancaman terhadap pemimpin. Dengan demikian, bahkan jika satu titik kritis diserang, seluruh sistem tidak akan lumpuh.

Pernyataan dari Tokoh-Tokoh Senior

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran telah lama mempelajari bagaimana menghadapi ancaman dari AS dan sekutunya. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap ibu kota tidak memengaruhi kemampuan Iran untuk terus berperang. “Decentralized Mosaic Defence memungkinkan kami untuk memutuskan kapan dan bagaimana perang akan berakhir,” ujarnya melalui platform X.

Sementara itu, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan kesiapan pasukan Iran untuk menghadapi perang panjang. “Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” tulisnya.

Cara Kerja Strategi Baru

Dilansir dari Times Now, IRGC yang terbagi menjadi 31 unit mandiri akan bertindak seperti potongan puzzle. Setiap komandan mendapatkan kekuatan taktis penuh, termasuk kebebasan untuk menembakkan rudal, meluncurkan drone, dan melakukan serangan gerilya tanpa perlu izin pusat.

Medan yang terdiri dari pegunungan dan gurun akan digunakan sebagai zona penyerangan. Pertahanan berlapis ini diyakini akan melemahkan penjajah secara perlahan. Dengan cara ini, setiap unit bisa terus bertempur sendiri-sendiri, sehingga tidak mudah dikalahkan.

Pengujian dan Persiapan

Strategi ini telah diuji dalam latihan ‘Smart Control’ pada Februari lalu. Hasilnya dinilai berhasil, dengan kapal serang cepat berkumpul di Hormuz, sistem peperangan elektronik membutakan radar, dan perintah terdesentralisasi diterbangkan tanpa persetujuan pusat. Kini, strategi ini akan diterapkan dalam perang nyata, yang diharapkan dapat meningkatkan pertahanan Iran secara signifikan.

Tujuan dari strategi ini adalah melelahkan penyerang. Dengan memanfaatkan medan untuk penyergapan, invasi ke Iran diharapkan menjadi mimpi buruk. Sejarah mencatat bahwa jebakan memainkan peran penting dalam perang Vietnam atau Afghanistan.

Risiko Bagi AS dan Israel

Tersebarnya unit IRGC yang mandiri menandakan bahwa serangan mendadak bisa terjadi di mana saja. Titik-titik rawan semakin menyempit, aliran minyak terhambat, dan AS-Israel akan menghadapi serangan kecil yang tak berujung. Tidak ada kemenangan cepat, dan peluang eskalasi meningkat tajam.

Perang Iran dimulai pada Sabtu (28/2/2026), ketika gabungan kekuatan AS dan Israel menyerang sejumlah kota di Iran secara mendadak. Serangan itu menggugurkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan sejumlah petinggi militer.

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan kota-kota penting di Israel dan semua pangkalan militer AS di Timur Tengah. Bahrain, Qatar, UEA, dan Kuwait yang menjadi rumah pangkalan AS ikut menjadi target rudal Iran.

Pos terkait