Iran Berduka, 22 Tewas di Pakistan Akibat Demo Konsulat Trump

Aa1tflgm
Aa1tflgm

Perang yang Mengguncang Timur Tengah

Serangan besar-besaran dari Iran terhadap Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) memicu krisis politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah. Peristiwa ini terjadi setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan terkoordinasi AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Dengan peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump, situasi justru memburuk.

Pada Minggu (1/3/2026), rudal-rudal Iran meluncur ke berbagai target di Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. Aksi ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, termasuk di Pakistan, di mana para pengunjuk rasa mencoba menyerbu Konsulat AS. Bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan di Karachi, Pakistan, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai lebih dari 120 lainnya. Di wilayah utara negara tersebut, demonstran juga menyerang kantor-kantor PBB dan pemerintah.

Korban Jiwa dan Kerusakan

Di Karachi, sejumlah besar demonstran Syiah marah atas serangan AS dan Israel terhadap Iran. Mereka menyerang kantor Kelompok Pengamat Militer PBB dan UNDP. Pejabat lokal menyebutkan bahwa 12 orang tewas dan lebih dari 80 luka-luka dalam bentrokan dengan polisi di wilayah Gilgit-Baltistan. Seorang dokter forensik di rumah sakit pemerintah mengatakan bahwa enam jenazah dan beberapa orang terluka dibawa ke fasilitas tersebut. Namun, jumlah korban meningkat menjadi 10 setelah empat orang yang terluka parah meninggal dunia.

Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari, menyampaikan belasungkawa kepada Iran atas kemartiran Khamenei. Ia menegaskan bahwa Pakistan berdiri bersama bangsa Iran di saat duka ini. Pihak berwenang juga menyatakan bahwa seluruh staf organisasi PBB dalam keadaan aman, meskipun ada kerusakan pada kantor badan amal lokal dan kantor polisi.

Serangan Rudal Iran ke Israel

Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah IRGC Iran meluncurkan gelombang serangan balasan besar-besaran. Serangan yang dinamakan “Operasi True Promise 4” menelan korban jiwa dari pihak militer AS dan warga sipil Israel. Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa tiga anggota militer AS tewas dan lima lainnya luka parah akibat serangan Iran yang menyasar pangkalan operasional AS.

Di Israel, dampak paling mematikan terjadi di Kota Beit Shemesh, dekat Yerusalem. Satu rudal balistik Iran menghantam area pemukiman dan mengenai langsung sebuah sinagoge serta tempat perlindungan bom di bawahnya. Layanan darurat Magen David Adom dan Kepolisian Israel mengonfirmasi sembilan orang tewas dan 28 lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.

Pernyataan Netanyahu dan Klaim Iran

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataannya dari atas atap markas besar IDF Kirya di Tel Aviv, menegaskan bahwa serangan Israel ke jantung Teheran akan terus meningkat. Ia menyebut hari-hari ini sebagai “hari yang menyakitkan” bagi Israel, namun berjanji akan menghancurkan pemerintah berkuasa Iran secara meyakinkan.

Namun, klaim berbeda disampaikan oleh pihak Iran. Melalui kantor berita Tasnim, IRGC menyebut bahwa serangan presisi mereka ke Tel Aviv dan Haifa telah memaksa para pejabat senior Israel, termasuk Perdana Menteri Netanyahu, bersembunyi di bunker-bunker bawah tanah yang dibentengi. Pihak Iran menyatakan bahwa serangan ini merupakan balasan atas agresi dua hari terakhir yang menewaskan lebih dari 200 orang di Iran, termasuk klaim tewasnya 145 anak-anak akibat serangan di sebuah sekolah dasar di Provinsi Hormozgan.

Negosiasi Nuklir Terancam Buntu

Konflik terbuka ini terjadi di tengah berlangsungnya negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington di Jenewa yang dimediasi oleh Oman. Meski pembicaraan pada Kamis lalu sempat menunjukkan “kemajuan signifikan”, upaya diplomasi tersebut kini terancam buntu akibat intensitas tindakan militer di lapangan yang juga mulai mengganggu jalur pengiriman minyak dan pusat penerbangan regional.

Peringatan untuk Warga AS di Pakistan

Kedutaan Besar AS di Pakistan menyatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa mereka memantau laporan tentang demonstrasi yang sedang berlangsung di Konsulat Jenderal AS di Karachi dan Lahore, serta seruan untuk protes tambahan di Kedutaan Besar AS di Islamabad dan Konsulat Jenderal di Peshawar. Pihak berwenang menyarankan warga AS di Pakistan untuk memantau berita lokal, tetap waspada terhadap lingkungan sekitar, menghindari keramaian, dan selalu memperbarui registrasi perjalanan mereka dengan pemerintah AS.




Pos terkait