Iran Di tengah Persaingan AS-Israel, Ekspor Buah Indonesia Naik

Aa1xlnnn 2
Aa1xlnnn 2



JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa selama tahun 2025, Indonesia melakukan impor dari Iran yang terdiri dari berbagai jenis barang seperti buah-buahan, besi dan baja, serta mesin dan peralatan mekanis dan bagiannya. Nilai total impor tersebut mencapai sebesar US$8,4 juta sepanjang tahun.

Beberapa hari belakangan ini, Iran menjadi pusat perhatian setelah menerima serangan militer dari Israel dengan dukungan Amerika Serikat (AS). Dalam responsnya, Iran melakukan serangan balasan ke Israel, yang menyebabkan beberapa pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah mengalami dampak.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, dalam konferensi pers pada Senin (2/3/2026), impor nonmigas dari Iran senilai US$8,4 juta terdiri dari beberapa komoditas utama. Di antaranya adalah buah-buahan (HS 08) dengan nilai US$5,9 juta, besi dan baja sebesar US$0,8 juta, serta mesin dan peralatan mekanis dan bagiannya HS 84 sebesar US$0,7 juta.

Di sisi lain, Indonesia juga melakukan ekspor nonmigas ke Iran senilai US$249,1 juta. Ekspor tersebut terdiri dari berbagai komoditas seperti buah-buahan (HS 08) sebesar US$86,4 juta, kendaraan dan bagiannya (HS 87) senilai US$34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) sebesar US$22 juta.

Pada awal tahun 2026, khususnya bulan Januari, kedua negara masih saling mengekspor dan mengimpor barang. Contohnya, Indonesia mengekspor buah-buahan senilai US$9,1 juta, lemak dan minyak hewan nabati US$2,1 juta, serta kendaraan dan bagiannya US$2 juta. Total nilai ekspor ke Iran pada awal tahun ini mencapai US$18,5 juta.

Sementara itu, Indonesia juga mengimpor dari Iran berupa buah-buahan senilai US$2,0 juta pada awal tahun 2026 ini. Ini merupakan mayoritas dari total barang yang diimpor dari Iran. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar 94,07% impor Indonesia dari Iran terdiri dari buah-buahan. Selain itu, ada juga impor mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya sebesar US$113.400 atau sekitar 5,30%.

Selain itu, Indonesia juga melakukan impor bahan bakar mineral atau HS 27 dari Iran senilai US$0,45 juta sepanjang tahun 2025.

Sebagai informasi tambahan, pelaku pasar mulai memperkirakan kemungkinan penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara AS dan Iran yang dipicu oleh serangan terhadap Iran akhir pekan lalu. Hal ini terlihat dari kenaikan harga minyak dunia. Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (2/3/2026), harga minyak Brent untuk pengiriman Mei naik sebesar 6,99% menjadi US$77,69 per barel.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak April juga mengalami kenaikan sebesar 6,61% ke level US$71,45 per barel. Harga minyak acuan global Brent sempat melonjak hingga 13%—yang merupakan angka tertinggi sejak Januari 2025—sebelum stabil di kisaran US$76 per barel atau naik sekitar 5%.

Sebagai catatan, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur sempit di lepas pantai Iran yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan volume besar gas alam, dilaporkan sebagian besar terhenti. Sejumlah pemilik kapal dan pelaku perdagangan memilih menghentikan sementara pelayaran di tengah eskalasi konflik.

Pos terkait