Serangan Terhadap Kantor Perdana Menteri Israel dan Fasilitas Militer
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta lokasi komandan Angkatan Udara rezim tersebut dilaporkan diserang dalam serangan terarah dan mendadak. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengungkapkan bahwa serangan tersebut dilakukan menggunakan Rudal Hipersonik Kheibar. Pernyataan IRGC menyebut tindakan tersebut sebagai aksi “mendadak” yang dilakukan pada gelombang ke-10.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebutkan bahwa kantor perdana menteri kriminal Israel dan lokasi komandan Angkatan Udara rezim itu dihantam dengan rudal balistik Kheybar Shekan. Namun, hingga saat ini, Israel belum memberikan konfirmasi resmi terhadap klaim tersebut. Nasib Netanyahu juga masih tidak jelas setelah serangan tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Israel, yang semakin memburuk setelah operasi gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran dan milisi-milisinya meluncurkan rudal serta drone ke kota-kota di Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk.
Kekhawatiran tentang Fasilitas Nuklir Iran
Di tengah situasi yang memburuk, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyampaikan kekhawatiran terhadap fasilitas nuklir Iran. Ia memperingatkan bahwa kemungkinan pelepasan radiologis dapat menyebabkan konsekuensi serius, termasuk kebutuhan untuk mengevakuasi wilayah seluas atau lebih besar dari kota-kota besar.
Grossi menambahkan bahwa upaya untuk menghubungi otoritas regulasi nuklir Iran masih berlangsung, namun hingga kini belum ada respons. Sementara itu, Duta Besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi, menyatakan bahwa pasukan AS dan Israel menyerang lokasi nuklir Iran sehari sebelumnya, termasuk fasilitas Natanz. Namun, Israel belum mengonfirmasi serangan terhadap Natanz maupun kantor Netanyahu.
Konflik Meluas ke Lebanon
Konflik juga meluas ke Lebanon, di mana Israel dan Hizbullah saling melancarkan serangan setelah gencatan senjata rapuh selama setahun runtuh. Ledakan mengguncang pinggiran Beirut, sementara kepala staf militer Israel meminta warga bersiap menghadapi konflik yang berkepanjangan.
Hizbullah menyatakan bahwa peluncuran roket mereka merupakan balasan atas kematian Khamenei. Israel kemudian menyerang lokasi-lokasi yang berafiliasi dengan Hizbullah di selatan Beirut. Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas akibat serangan udara tersebut. Konflik kini memasuki hari ketiga dengan korban terus bertambah di berbagai wilayah.
Serangan oleh Amerika Serikat dan Israel
Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan ribuan serangan udara di seluruh Iran, termasuk Teheran. Iran membalas dengan menembakkan drone dan rudal ke Israel serta sekutu AS di Teluk Persia. Di Kuwait, tiga tentara AS dilaporkan tewas, sementara sembilan orang meninggal di Israel bagian tengah.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 115 orang tewas, banyak di antaranya anak-anak, di sebuah sekolah dasar perempuan dekat pangkalan angkatan laut di Iran selatan. Di Lebanon, sedikitnya 31 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel.
Penjelasan Militer Israel
Militer Israel menyatakan bahwa pihaknya menyerang peluncur rudal Iran, sistem pertahanan udara, markas pemerintah, serta pusat komando. Sementara itu, pasukan AS menargetkan fasilitas rudal balistik Iran, menghancurkan markas besar IRGC, dan menenggelamkan setidaknya satu kapal perang Iran.
Di dalam negeri Iran, rencana suksesi tengah berjalan dengan komite sementara menjalankan pemerintahan hingga pemimpin tertinggi baru dipilih oleh Majelis Ahli. Di sisi lain, pelayaran melalui Selat Hormuz dan Laut Merah terganggu, memengaruhi pasokan minyak global.





